Welcome!!

Bismillahirrahmanirrahiim....

Kamis, 30 Juni 2016

Untukku yang lama tertidur

Hei, lama sekali aku tertidur ya? Sebulan? Dua bulan? Atau bahkan setahun? Entahlah, bicara waktu adalah kerelativitasan. Kau mungkin anggap 20 tahun waktu yang lama, tetapi di hari akhir kelak itu hanya satu kedipan mata. Atau bagimu sehari adalah waktu yang sebentar, tetapi bagi mereka yang tengah diserang, setiap detik adalah nyawa. Lihatlah, tak ada definisi jelas tentang waktu, bukan?

Itulah, kenapa ashabul kahfi menganggap mereka hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari, padahal kurun sudah berganti tiga abad! Allah, siapakah yang mampu berlogika ketika dihadapkan pada waktu?

Kali ini pun kita yang tertidur semalam mungkin telah melewatkan waktu yang bernilai puluhan tahun! Siapa yang tahu? Bukankah Rasulullah saw mengencangkan ikat pinggangnya di malam-malam ini? Sementara kita mengikat bantal dalam pelukan kita? Nastaghfirullah.

Sudah berapa lama aku tertidur? Apakah benar hanya semalam? Bukankah di malam itu ada waktu yang lebih berharga dari seluruh hidup? Saat Allah mendengar apa saja yang dikatakan hambaNya. Mereka meminta ampunan, Allah ampuni. Mereka meminta keamanan, Allah lindungi. Mereka meminta apapun, Allah beri! Ah, artinya aku telah tertidur sepanjang hidupku? Entahlah.

Terlalu lama aku tertidur sehingga punggungku sulit terangkat ketika ayam berkokok keras. Sehingga tanganku lebih senang memeluk bantal dibanding menerima pemberianNya. Sehingga mataku tak rela terbuka demi melanjutkan kisah semu yang tak berharga.

Sudah berapa lama aku tertidur?
Kuharap kau membangunkanku, kawan!

Jumat, 10 Juni 2016

Prolog tulisan saya

Saya hanya ingin menulis. Kegiatan yang telah lama saya acuhkan selama kurang lebih enam bulan. Saya tidak berharap tulisan ini dibaca siapapun (yang ini agak bohong). Tapi jujur, saya ingin tahu sejauh mana saya tertinggal. Dan benarlah, saya sudah terdampar dalam zona hitam penulis. Disini, bahkan satu hurufpun tidak bisa saya temui, bagi jari saya, menyentuh huruf lalu merangkainya adalah siksa. Ah, tapi saya paksakan jari itu tersiksa, sebab sampai kapan saya harus pura-pura tak tahu? Oh kawan, lihatlah badan saya kurus kerempeng, rambut saya tak teratur, dan mata saya menghitam (ini hiperbola) demi menghindari tulisan!

Biarlah ia meracau sesuka hati. Biarlah jiwa ini mersakan kebebasan lagi. Bukankah ini sudah bukan zamannya mengungkung diri? Ya, asalkan tak ada yang tersakiti. Saya akan menulis lagi, kawan. Entah tentang hidup baru saya bersama kekasih hati, entah tentang buah hati yang dinanti, atau sekedar cerita fiksi yang levelnya masih di bawah laut mati. Hahah. Saya tidak peduli, saya hanya ingin menulis lagi. Kalau kau tak lagi ingin menemaniku, tak apa. Semoga angin menyampaikan sepoinya padamu agar kau kembali menikmati sajian ini.

Ah, bagaimana tulisan pembuka saya? Kaku dan tak bermakna? Baiklah tak apa. Ini hanya sebuah prolog untuk tulisan-tulisan lainnya. Bukan prolog yang baik, ya? Heheh

Inilah saya, kawan. Saya ini penulis!

Selasa, 31 Mei 2016

Kawan yang kutinggalkan

Sepertinya angin bukan lagi kawan
Ia membuatku menggigil ketakutan
Setiap detiknya bagiku penderitaan
Maka kuminta sebuah perpisahan

Maafkan aku kawan,
Aku atau kamu yang berubah
Kita tak lagi searah
Kau membuatku ingin muntah

Maaf sekali lagi,
Ku salahkan kamu kali ini
Padahal jelas aku yang menjauhi
Jelas aku yang memusuhi

Kawan, kuharap kau mengerti
Tuhan yang menciptaku begini
Aku bahagia tapi sakit hati
Sebab terpaksa membuatmu sendiri

Kawan,
Tenanglah ini hanya sementara
Sampai seseorang dapat terbiasa
Dengan hubungan antara kita

Jadi untuk sekarang
Kuucapkan sampai jumpa
Dengan penuh linangan air mata...

Singapore, 25 sya'ban 1437H
Saat AC harus dipadamkan sebab perubahan tubuh

Senin, 16 Mei 2016

Tentang najis dalam shalat

Salah satu syarat sahnya shalat adalah sucinya badan, pakaian dan tempat daripada najis. Hal ini perlu diperhatikan karena masih banyak orang yang menyepelekannya.

Kita harus memastikan sucinya pakaian, badan ( termasuk mulut, hidung, dan muka), serta tempat shalat adalah suci dari najis yang tidak dimaafkan sebelum kita memulai shalat kita.

Jika seseorang lupa bahwa badannya atau pakaiannya najis lalu ia shalat, maka shalatnya tidak sah tetapi ia mendapat pahala dari bacaannya. Dan ia wajib mengulang shalatnya.

Jika setelah shalat, ia melihat najis di badan, pakaian, atau tempat shalat maka hukumnya ada dua:
1. Jika ia meyakini najis itu muncul setelah shalatnya selesai, maka shalatnya sah dan tak perlu diulang.
2. Jika ia meyakini najis itu sudah ada saat ia shalat, maka shalatnya tidak sah dan wajib mengulang.

Salah satu perkara penting yang harus diperhatikan adalah, seseorang juga bisa batal shalatnya saat ia memegang benda suci yang bersambung dengan benda najis, diantaranya:
1. Jika ia MENGGENDONG seseorang yang membawa najis, seperti menggendong bayi yang belum dibersihkan kotorannya (meski memakai pampers), atau menggendong wanita haidh atau nifas yang mengalir darahnya.
Ataupun sebaliknya, yakni orang yang membawa najis itu menggendong orang yang shalat, maka batal shalatnya.
2. Memegang sesuatu seperti botol yang di dalamnya ada najis, maka batal pula shalatnya.
3. Jika memegang tali atau seumpamanya yang mana tali tersebut bersambung dengan najis seperti anjing, Batu yang bernajis atau budak yang belum istinja', maka batal shalatnya. Karena ia membawa sesuatu yang berhubungan dengan najis, maka seolah-olah ia membawa najis. Tetapi jika tali tadi di bawah telapak kakinya, shalatnya sah.

Walaupun kucing suci, tetapi jika ia duduk di atas paha orang yang shalat, maka batal shalatnya jika ia tak memindahkannya segera. Sedikit bulu kucing yang ada di badan atau pakaian, dimaafkan.

Najis-najis yang dimaafkan:
Maksud najis yang dimaafkan adalah, ia tak membatalkan shalat meskipun ada saat shalat. Yang termasuk najis yang dimaafkan adalah:
* darah bisul,
* darah bekam,
* darah luka,
* darah jerawat,
* nanah,
* air luka,
* darah nyamuk,
* darah kutu
* darah tahi lalat,
* air kencing dari orang yang kencing terus menerus
* darah istihadhoh

Semua dimaafkan jika bukan dengan perbuatannya sendiri, seperti memecahkan jerawat atau bisul atau membunuh nyamuk dengan sengaja. Darah dari bisul, nanah, luka, dan sebagainya dimaafkan jika darah itu sedikit dan tidak mengalir jauh dari tempatnya. Jika darah orang lain mengenai orang shalat, dimaafkan jika sedikit dan tidak mengalir jauh.

TIDAK dimaafkan bangkai semut, kutu, nyamuk, sekalipun hanya sayapnya, yang melekat di tubuh atau pakaian. Sama saja apakah binatang itu mati sendiri atau dibunuh. Juga sama apakah binatang itu darahnya mengalir atau tidak. Tetapi jika bagkai itu berada dalam jahitan dan sulit dikeluarkan, maka dimaafkan.

Jika ia kejatuhan najis kering saat shalat dan langsung menjentikknya atau meniupnya tanpa menyentuh najis tersebut, maka sah shalatnya. Tetapi jika ia membiarkannya walau seukuran tu'maninah, maka batal shalatnya.
Tentang meniup dalam shalat, jika keluar dua huruf, maka batal shalatnya, ini pendapat yang shahih.

Jika ia kejatuhan najis basah dalam shalat, maka ia harus segera membuang pakaiannya itu. Jika tidak, atau ia mendiamkannya seukuran tu'maninah, batal shalatnya. Tetapi jika terjadi di masjid, maka hukumnya:
1. Jika waktu shalat masih panjang, lebih afdhol ia keluar dari shalatnya dan membersihkan pakaiannya kemudian mengulangi shalatnya.
2. Jika waktu shalat sempit, maka lempar pakaian itu dan teruskan shalat, setelah selesai ia wajib membersihkan lantai yang terkena najis itu.

Sumber:
Panduan ilmu fiqh, syeikh Omar Al-khatib

Sabtu, 07 Mei 2016

Foto Bersama Suami ;)

Setiap kali melihat pasangan suami istri bermesraan di media social, saya iri luar biasa. Saya juga ingin seperti mereka. Tetapi bukan maksudnya saya dan suami tak semesra mereka. Memberi tahu teman di media social itulah yang saya iri-kan.

Kalau foto berdua dengan suami tersayang sih banyak, sampai ratusan di folder HP. Foto suami yang keren juga banyak. Hanya saja saya tidak pernah mempublikasikannya ke media. Kalau ada yang meminta foto pun saya tak kasih bila bukan saudara yang dapat dipercaya.

Sebenarnya kalau mengikuti kehendak saya, media social saya pastilah berisi banyak foto sama suami. Apalagi saya tergolong pengantin baru (baru 4 bulan. Hehehe). Tetapi jari-jari saya takut menekan tombol upload itu. Selain karena suami pun tak suka fotonya tersebar, nasehat wanita itu selalu terngiang dalam pikiran saya.

Seorang wanita boleh menampakkan dirinya dengan syarat ia yakin tak ada satupun lelaki yang tertarik padanya.

Yah, gimana ya.. Walaupun saya sudah pakai penutup muka alias niqab, tapi Mata saya tetap terlihat, jangan2 nanti yang lihat jadi naksir Mata saya? Heheh. Buktinya setelah melihat saya, suami ngajak nikah.. Hihih

Selain itu AL Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid pun pernah menasehati saya (melalui YouTube) begini:

Apa kamu tahu kenapa kisah para wanita dalam AL Quran tidak pernah disebut namanya kecuali sayyidah maryam (dalam al Quran Asiyah disebut istri fir'aun, Hafshah dan Aisyah disebut istri nabi, dll. Sedang maryam disebut namanya sebab ia bukan istri kepada siapapun)? Sebab Allah ingin menjaga kehormatan wanita!

Lihat! Nama saja sudah menjadi aib bila tersebar, lalu bagaimana dengan foto?

Jadi setiap kali saya ingin upload, saya tahan diri saya. Sabar, nikmatin aja sendiri...

Tiap kali saya iri melihat teman-teman upload foto, saya elus dada. Sabar, jaga kehormatan kamu..

Dan setiap kali foto mesra mereka tersebar, saya terus berkata. Sabar....

Maklum, sebenarnya saya photoholic, jadi inilah cobaan bagi saya.

Sabar ya nak...

Selasa, 26 April 2016

Keluarlah!

Berapa lama kamu akan bersembunyi
Atas nama jiwa yang suci
Lalu berkata bahwa ini bukan melarikan diri

Keluarlah!
Bukankah ini mimpimu
Bersama semesta bersatu
Bukannya duduk di sudut itu
Lalu tak habis merutuki waktu

Keluarlah!
Jadilah dokter bagi daun yang gugur
Atau guru bagi semut yang tersesat dari baris teratur
Atau arsitek yang membangun sarang di tepian jalur

Keluarlah!
Lepaskan ikatan itu sekarang juga
Buatlah syurga sebelum syurga
Bukan neraka sebelum neraka!

Keluarlah!
Lalu makanlah di taman terindah
Bukan lagi di tumpukan sampah!

Keluarlah!
Kau tahu jalan pulang, bukan?

Jumat, 08 April 2016

Negeri kedua: Singapore

Negeri ini tempat tinggal kedua bagiku. Yah walaupun aku sama sekali tak dianggap penduduk oleh negeri ini, tapi disinilah sang pujaan hati membawaku. Tanpa sempat membuat upacara perpisahan dengan keluarga dan teman-teman, kunekatkan mengikuti jejak menuju rumah yang baru. Sebuah negeri bernama: Singapore.

Negeri ini berbeda 360 derajat dari negeri tempatku dilahirkan. Kalau ada derajat yang lebih tinggi dari itu, akan kupakai sebab memang terlampau jauh berbeda! Padahal jaraknya hanya 2 jam menggunakan mesin terbang raksasa, tetapi seprerti menembus dimensi dunia lain!

Bagaimana tidak? Hal pertama kali yang membuatku merinding ialah melihat para wanita ketika turun di bandara terbaik dunia itu: hei, apakah semua wanita itu orang miskin? Kenapa mereka hanya mampu membeli celana sepersepuluh kaki? Hiyyy, bajunya saja cuma bisa menutup bagian depan wanita-wanita itu! Aku pejamkan mata sambil terus beristighfar.
" Itulah pemandangan disini setiap hari."  Ucapan pendamping hidupku itu membuatku sadar, hei aku sudah berada di negeri orang lain!

Itu belum apa-apa. Lebih mengerikan lagi ketika aku antri di immigrasi, tepat di depanku pasangan bule tengah berbincang. Dan sialnya, ketika aku melihat mereka, tahu apa yang tengah mereka lakukan? Ah, sudahlah. Aku hanya menunduk kesal sambil terus beristighfar.

Walaupun negeri ini dahulu adalah bagian dari negeri tetangga, tetapi semuanya berbeda jauh kecuali tentang makanan. Disini 80% adalah orang china. Jadi tak heran bila minuman keras dijual seperti rokok di Indonesia. Pun tak perlu heran kalau ada upacara kematian yang sangat mewah (serupa dengan acara walimah kalau di Indonesia mah), yang kalau ada yang menangisi sang mayat, maka akan dibayar (katanya sih gitu, tapi saya belum pernah coba.hehe). Tak perlu heran pula jika daging babi dijual seperti bala-bala.

Disini ada 4 bahasa yang terkenal. Bahasa inggris sebagai pemersatu, dan 3 bahasa etnis: china, india, dan melayu. Kalian pasti tahu kan aku bisa bertahan dengan bahasa yang mana 😁.

Dan yang memprihatinkan adalah kebanyakan muslim yang saya kenal belum begitu fasih membaca al Qur'an di usianya yang sudah sangat matang. Ya, aku paham. Di negeri bukan islam memang berbeda sudut pandang. Apalagi negeri ini sangat tak berperasaan. Semua harga begitu mahal sedangkan hasil bekerja tak begitu memuaskan. Tak heran pula bahwa ada banyak kasus bunuh diri disini. Tuntutan hidup membuat beberapa orangtua tak begitu menganggap penting urusan agama. Yah, akhirnya di usia yang seharusnya ia mengajari anaknya membaca al Quran, ia malah harus belar iqra terlebih dahulu.

Di tengah kegersangan rohani di negeri ini, kutemukan sebuah telaga murni. Ah, alhamdulillah, ternyata negeri ini tak mati. Ternyata ada majelis hadrah dan maulid disini, bahkan ulama-ulama sering juga berkunjung kesini. Syukurlah. Aku benar-benar bersyukur.

Kuharap para pejuang dakwah di negeri ini tak pula terkena virus mata duitan, hanya mengajar bila dibayar. Ya kuharap begitu, agar tak ada lagi yang buta agama di usia senja.