Welcome!!

Bismillahirrahmanirrahiim....

Senin, 17 April 2017

Pilih Temanmu!

Tahukah kamu bahwa Singapura dahulunya adalah bagian dari Indonesia? Bahkan nama negara Singapura sendiri adalah pemberian orang Indonesia bernama Sang Nila Utama. Jadi sebenarnya saya tidak pindah ke negeri lain, melainkan negeri sendiri yang kini menjadi milik orang lain. Hihih, maksa banget...

Kalau bicara tentang universitas disini atau tempat-tempat menarik lainnya, sudah biasa. Lagipula info semacam itu dapat dengan mudah kamu akses di dunia maya. Jadi kali ini saya akan mengangkat topik lain yang lebih layak kita renungkan.

Alkisah di negeri ini, ada sebuah keluarga muslim. Keturunan dari nenek moyang yang shaleh. Bahkan kakek buyut mereka terkenal sebagai ulama yang mumpuni. Tak heran jika anak cucunya mewarisi pendidikan agama yang baik. Mereka sampai membuat majelis yang cukup terpandang.

Namun, entah karena angin apa yang menerpa keluarga mereka, beberapa tahun kemudian sang anak perempuan tampil di media sosial tanpa jilbab! Tak hanya itu, yang lebih mengkhawatirkan adalah ia menyerukan kepada seluruh murid yang pernah diajarinya bahwa yang ia ajarkan salah. Dan ia mengajak muridnya untuk "sadar" bahwa islam bukanlah jawaban kebahagiaan hidup. Tetapi pandangan liberal-lah yang bisa membuat hidupmu nyaman. Na'udzubillahi min dzalik.

Tahukah kamu kenapa hal itu terjadi? Dengar dari mulut ke mulut, sang anak ini ternyata dikirim belajar ke negeri barat. Yah, memang meskipun sekolah disini sudah bagus, tetapi tetap saja banyak warga Singapura yang mencari pendidikan lebih bagus lagi. Nah, sepulang dari negeri barat itulah sikapnya berubah 180 derajat! Ia yang dulunya dikenal sebagai ustadzah kini menjadi wanita modern.

Lingkungan memang sangat mempengaruhi perilaku kita, mau tidak mau. Apalagi jika kita belum memiliki pegangan yang kuat atau iman kita yang turun naik. Coba perhatikan penampilan dan gaya kamu, pasti itu pun pengaruh dari lingkungan kamu kan. Ketika teman-temanmu adalah mereka yang menjaga aurat, mau tidak mau kamu pun akan mengikuti mereka meski tidak sempurna. Tetapi ketika teman-temanmu adalah penghisap rokok, kamu terpaksa menerima tawaran rokok gratis mereka atau jadi menganggap itu hal biasa.

Berhati-hatilah. Kamu bisa dikenal dengan melihat temanmu. Para ulama zaman dahulu sangat memperhatikan pergaulan anak mereka. Bukannya berlebihan, tetapi itu memang wajib sebab anak adalah tanggung jawab setiap orangtua. Bahkan sangking khawatirnya terhadap pergaulan di zamannya, Imam Abdullah Al Haddad pernah berkata "ini adalah zaman yang lebih aman ketika berdiam di rumah". Padahal beliau hidup ratusan tahun yang lalu! Kiranya jika beliau hidup di zaman sekarang, apa yang akan beliau katakan?

Bukannya tidak sopan, tetapi kita memang harus pilih-pilih dalam mencari teman. Lebih baik kita tidak memiliki teman daripada berkawan dengan teman yang mengajak kepada kelalaian. Teman yang shaleh dapat menyampaikanmu kepada syurga. Pernah diceritakan bahwa seseorang di syurga menanyaka keadaan temannya dan dijawab bahwa temannya termasuk ahli neraka. Ia sangat sedih dan meminta agar temannya dimasukkan ke syurga. Dengan rahmat Allah, ia pun diizinkan memberi syafaat kepada temannya sehingga mereka pun berkumpul di syurga sebagai teman yang saling mencintai karena Allah. Masya Allah.

Terakhir, buat kamu yang ingin belajar di luar negeri, saya sama sekali tidak melarang. Imam Syafii bahkan menganjurkan untuk meninggalkan kampung halaman demi mencari ilmu. Hanya saja peganglah agamamu kuat-kuat. Jangan pernah kamu longgarkan meski sesaat. Saya saja yang ibu rumah tangga di negeri orang merasakan sulitnya menjaga iman meskipun di dalam rumah. Jikalau kau temukan orang shaleh, ikutilah dia. Bertemanlah dengannya. Tetapi jika yang kau dapati adalah orang-orang yang dapat membahayakan akidahmu, lebih baik kamu menyendiri. Dan berkomunikasi dengan mereka seperlunya saja.

Ingatlah, carilah ridha Allah, maka Allah akan membuat semua makhluk meridhaimu. Jangan pernah mencari ridha makhluk, sebab yang akan kau dapatkan hanya kehinaan dan murka Tuhanmu. Naudzu billahi min dzalik.

Semoga apa yang saya ulas bermanfaat. Dan menjadi pengingat bagi saya khusunya dan juga pembaca sekalian. Aamiin.

Senin, 07 November 2016

Anakmu Seperti Kamu

Kalau kamu bertanya akan seperti apa anakmu kelak, pandanglah cermin itu. Tengoklah dengan teliti. Semua yang kau lihat itulah jadinya anakmu. Sebesar apa pandanganmu terhadap dunia, sejauh apa lisanmu berucap bijaksana, seberarti apa agama dalam hati tertata, seperti itulah kelak anakmu tercipta.

Kamu adalah pohon, dan anak adalah buahnya. Sedangkan pemeliharaannya adalah tingkah lakumu. Apakah buahnya manis, masam, atau bahkan pahit, kamu juga yang menentukan. Apakah buah itu akan menyenangkan hatimu atau malah mendukakan pula kau yang tentukan.

Tahukah kau mengapa sayyidah fatimah ra begitu pemalu? Tidak lain tidak bukan ialah sebab ayahnya lah yang mengajarkan bahwa "malu adalah sebagian dari iman". Ibunya pula yang mencontohkan bagaimana wanita harus menjaga dirinya. Hingga terdidiklah perempuan ahli syurga yang dari lisannya berucap "sebaik-baik wanita adalah yang tidak melihat ataupun dilihat lelaki".

Lalu darimana pula keberanian sayyidina husein jikalau bukan sebab melihat sang ayah yang gagah berani memimpin umat? Pula dari ibu yang tak pernah berdusta? Maka tumbuhlah sayyidina husein dengan semangat juang membela islam meski harus dibayar dengan nyawanya.

Siapakah pula yang tak merasakan keadilan khalifah umar bin abdul aziz? Bukankah sebab kedua orangtua dan moyang yang shaleh beliau mendapatkan pengajaran?

Masya Allah...
Maka jadilah orangtua yang shaleh jik ingin mendapat anak yang shaleh!

Allah...
Jadikan kami orangtua yang shaleh begitupun keturunan kami. Aamiin.

Senin, 15 Agustus 2016

Catatan Ibu Hamil (4 bulan)

Sudah empat bulan ada seseorang yang terus bersamaku, tak pernah berpisah. Dia makan apa yang aku makan. Dia mengikuti apapun yang kulakukan. Dia selalu menempel padaku. Dia yang kelak akan kupanggil dengan sebutan anakku..

Tetiba saja tubuhku merinding. Dia nanti akan memberiku gelar ibu, tetapi siapkah aku? Pantaskah aku? Pikiranku dimasuki berbagai praduga. Apakah anakku kelak dapat tumbuh dengan baik di bawah asuhanku? Apakah aku mampu menjadi ibu yang baik baginya?

Aku benar-benar khawatir, kawan. Sekarang aku tinggal di negeri yang bahkan mencari masjid pun harus menggunakan transport. Belum lagi aku tak pandai berbicara dalam bahasa inggris, apa kelak anakku mampu?

Hei aku sampai lupa bahwa yang mengirimku kesini tentu lebih tahu tentang kemampuanku. Bukankah Ia Maha Mengetahui segala ciptaanNya?

Maka padamu, Allah...
Ku serahkan hidup dan matiku, pula skenario kehidupanku disini. Sungguh Engkaulah sebaik-baik sandaran.
Berikan aku keyakinan seperti Sayyidina Ali saat menggantikan Rasul di tempat tidurnya..
Mantapkan azamku seperti Sayyidah Sumayyah saat menyeru namaMu di tengah intimidasi kaum kafir..
Kuatkan langkahku seperti Sayyidah Asma bintu Abu bakar saat melintasi padang pasir dengan dua ikat pinggangnya...

Allah...
Kabulkan doaku. Aamiin

Kamis, 30 Juni 2016

Untukku yang lama tertidur

Hei, lama sekali aku tertidur ya? Sebulan? Dua bulan? Atau bahkan setahun? Entahlah, bicara waktu adalah kerelativitasan. Kau mungkin anggap 20 tahun waktu yang lama, tetapi di hari akhir kelak itu hanya satu kedipan mata. Atau bagimu sehari adalah waktu yang sebentar, tetapi bagi mereka yang tengah diserang, setiap detik adalah nyawa. Lihatlah, tak ada definisi jelas tentang waktu, bukan?

Itulah, kenapa ashabul kahfi menganggap mereka hanya tertidur sehari atau bahkan setengah hari, padahal kurun sudah berganti tiga abad! Allah, siapakah yang mampu berlogika ketika dihadapkan pada waktu?

Kali ini pun kita yang tertidur semalam mungkin telah melewatkan waktu yang bernilai puluhan tahun! Siapa yang tahu? Bukankah Rasulullah saw mengencangkan ikat pinggangnya di malam-malam ini? Sementara kita mengikat bantal dalam pelukan kita? Nastaghfirullah.

Sudah berapa lama aku tertidur? Apakah benar hanya semalam? Bukankah di malam itu ada waktu yang lebih berharga dari seluruh hidup? Saat Allah mendengar apa saja yang dikatakan hambaNya. Mereka meminta ampunan, Allah ampuni. Mereka meminta keamanan, Allah lindungi. Mereka meminta apapun, Allah beri! Ah, artinya aku telah tertidur sepanjang hidupku? Entahlah.

Terlalu lama aku tertidur sehingga punggungku sulit terangkat ketika ayam berkokok keras. Sehingga tanganku lebih senang memeluk bantal dibanding menerima pemberianNya. Sehingga mataku tak rela terbuka demi melanjutkan kisah semu yang tak berharga.

Sudah berapa lama aku tertidur?
Kuharap kau membangunkanku, kawan!

Jumat, 10 Juni 2016

Prolog tulisan saya

Saya hanya ingin menulis. Kegiatan yang telah lama saya acuhkan selama kurang lebih enam bulan. Saya tidak berharap tulisan ini dibaca siapapun (yang ini agak bohong). Tapi jujur, saya ingin tahu sejauh mana saya tertinggal. Dan benarlah, saya sudah terdampar dalam zona hitam penulis. Disini, bahkan satu hurufpun tidak bisa saya temui, bagi jari saya, menyentuh huruf lalu merangkainya adalah siksa. Ah, tapi saya paksakan jari itu tersiksa, sebab sampai kapan saya harus pura-pura tak tahu? Oh kawan, lihatlah badan saya kurus kerempeng, rambut saya tak teratur, dan mata saya menghitam (ini hiperbola) demi menghindari tulisan!

Biarlah ia meracau sesuka hati. Biarlah jiwa ini mersakan kebebasan lagi. Bukankah ini sudah bukan zamannya mengungkung diri? Ya, asalkan tak ada yang tersakiti. Saya akan menulis lagi, kawan. Entah tentang hidup baru saya bersama kekasih hati, entah tentang buah hati yang dinanti, atau sekedar cerita fiksi yang levelnya masih di bawah laut mati. Hahah. Saya tidak peduli, saya hanya ingin menulis lagi. Kalau kau tak lagi ingin menemaniku, tak apa. Semoga angin menyampaikan sepoinya padamu agar kau kembali menikmati sajian ini.

Ah, bagaimana tulisan pembuka saya? Kaku dan tak bermakna? Baiklah tak apa. Ini hanya sebuah prolog untuk tulisan-tulisan lainnya. Bukan prolog yang baik, ya? Heheh

Inilah saya, kawan. Saya ini penulis!

Selasa, 31 Mei 2016

Kawan yang kutinggalkan

Sepertinya angin bukan lagi kawan
Ia membuatku menggigil ketakutan
Setiap detiknya bagiku penderitaan
Maka kuminta sebuah perpisahan

Maafkan aku kawan,
Aku atau kamu yang berubah
Kita tak lagi searah
Kau membuatku ingin muntah

Maaf sekali lagi,
Ku salahkan kamu kali ini
Padahal jelas aku yang menjauhi
Jelas aku yang memusuhi

Kawan, kuharap kau mengerti
Tuhan yang menciptaku begini
Aku bahagia tapi sakit hati
Sebab terpaksa membuatmu sendiri

Kawan,
Tenanglah ini hanya sementara
Sampai seseorang dapat terbiasa
Dengan hubungan antara kita

Jadi untuk sekarang
Kuucapkan sampai jumpa
Dengan penuh linangan air mata...

Singapore, 25 sya'ban 1437H
Saat AC harus dipadamkan sebab perubahan tubuh

Senin, 16 Mei 2016

Tentang najis dalam shalat

Salah satu syarat sahnya shalat adalah sucinya badan, pakaian dan tempat daripada najis. Hal ini perlu diperhatikan karena masih banyak orang yang menyepelekannya.

Kita harus memastikan sucinya pakaian, badan ( termasuk mulut, hidung, dan muka), serta tempat shalat adalah suci dari najis yang tidak dimaafkan sebelum kita memulai shalat kita.

Jika seseorang lupa bahwa badannya atau pakaiannya najis lalu ia shalat, maka shalatnya tidak sah tetapi ia mendapat pahala dari bacaannya. Dan ia wajib mengulang shalatnya.

Jika setelah shalat, ia melihat najis di badan, pakaian, atau tempat shalat maka hukumnya ada dua:
1. Jika ia meyakini najis itu muncul setelah shalatnya selesai, maka shalatnya sah dan tak perlu diulang.
2. Jika ia meyakini najis itu sudah ada saat ia shalat, maka shalatnya tidak sah dan wajib mengulang.

Salah satu perkara penting yang harus diperhatikan adalah, seseorang juga bisa batal shalatnya saat ia memegang benda suci yang bersambung dengan benda najis, diantaranya:
1. Jika ia MENGGENDONG seseorang yang membawa najis, seperti menggendong bayi yang belum dibersihkan kotorannya (meski memakai pampers), atau menggendong wanita haidh atau nifas yang mengalir darahnya.
Ataupun sebaliknya, yakni orang yang membawa najis itu menggendong orang yang shalat, maka batal shalatnya.
2. Memegang sesuatu seperti botol yang di dalamnya ada najis, maka batal pula shalatnya.
3. Jika memegang tali atau seumpamanya yang mana tali tersebut bersambung dengan najis seperti anjing, Batu yang bernajis atau budak yang belum istinja', maka batal shalatnya. Karena ia membawa sesuatu yang berhubungan dengan najis, maka seolah-olah ia membawa najis. Tetapi jika tali tadi di bawah telapak kakinya, shalatnya sah.

Walaupun kucing suci, tetapi jika ia duduk di atas paha orang yang shalat, maka batal shalatnya jika ia tak memindahkannya segera. Sedikit bulu kucing yang ada di badan atau pakaian, dimaafkan.

Najis-najis yang dimaafkan:
Maksud najis yang dimaafkan adalah, ia tak membatalkan shalat meskipun ada saat shalat. Yang termasuk najis yang dimaafkan adalah:
* darah bisul,
* darah bekam,
* darah luka,
* darah jerawat,
* nanah,
* air luka,
* darah nyamuk,
* darah kutu
* darah tahi lalat,
* air kencing dari orang yang kencing terus menerus
* darah istihadhoh

Semua dimaafkan jika bukan dengan perbuatannya sendiri, seperti memecahkan jerawat atau bisul atau membunuh nyamuk dengan sengaja. Darah dari bisul, nanah, luka, dan sebagainya dimaafkan jika darah itu sedikit dan tidak mengalir jauh dari tempatnya. Jika darah orang lain mengenai orang shalat, dimaafkan jika sedikit dan tidak mengalir jauh.

TIDAK dimaafkan bangkai semut, kutu, nyamuk, sekalipun hanya sayapnya, yang melekat di tubuh atau pakaian. Sama saja apakah binatang itu mati sendiri atau dibunuh. Juga sama apakah binatang itu darahnya mengalir atau tidak. Tetapi jika bagkai itu berada dalam jahitan dan sulit dikeluarkan, maka dimaafkan.

Jika ia kejatuhan najis kering saat shalat dan langsung menjentikknya atau meniupnya tanpa menyentuh najis tersebut, maka sah shalatnya. Tetapi jika ia membiarkannya walau seukuran tu'maninah, maka batal shalatnya.
Tentang meniup dalam shalat, jika keluar dua huruf, maka batal shalatnya, ini pendapat yang shahih.

Jika ia kejatuhan najis basah dalam shalat, maka ia harus segera membuang pakaiannya itu. Jika tidak, atau ia mendiamkannya seukuran tu'maninah, batal shalatnya. Tetapi jika terjadi di masjid, maka hukumnya:
1. Jika waktu shalat masih panjang, lebih afdhol ia keluar dari shalatnya dan membersihkan pakaiannya kemudian mengulangi shalatnya.
2. Jika waktu shalat sempit, maka lempar pakaian itu dan teruskan shalat, setelah selesai ia wajib membersihkan lantai yang terkena najis itu.

Sumber:
Panduan ilmu fiqh, syeikh Omar Al-khatib