Guru : Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram
Syeikh : kenapa?
Guru : (tak ada dalilnya) Saya ingin tahu, satu ayat saja yg menyebutkan ‘ diharamkan atas kalian rokok’
Syeikh : Apakah Anda makan jeruk, apel maupun pisang?
Guru : Iya
Syeikh : Apakah ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?
Guru : Tidak ada
Syeikh : Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157)
Maka segala yang baik semisal daging, jeruk, apel...susu dll itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yg dihalalkan. Adapun yg buruk2, maka Allah mengharamkannya.
Guru : Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yg baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik
Syeikh : Anda punya istri?
Guru : ya
Syeikh : Anda punya anak?
Guru : ya
Syeikh : Jika kau lihat anakmu mengunyah permen, apakah kamu ridha?
Guru : ya, tidak masalah
Syeikh : Kalau kau lihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?
Guru : tidak
Syeikh : kenapa?
Guru : karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk)
Syeikh : Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yg haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?
Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas degan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”
(penerjemah: Abu Umar Abdillah)
salam ramadhan..
Welcome!!
Bismillahirrahmanirrahiim....
Tampilkan postingan dengan label tulisan agak serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan agak serius. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Juli 2013
Rabu, 25 April 2012
Tuhan Maha Esa
Sulit sekali menjelaskan tuhan secara
sederhana, para filsuf yang kerjaannya mikir sekalipun masih bingung
mendefinisikan tuhan, Apakah tuhan?, Adakah? Bagaimana? Kapan?
Pertanyaan-pertanyan sederhana ini
muncul dan jawaban tumbuh subur, bukan karena mereka mengerti tapi
karena mereka tidak sudi berkata “Aku tidak tahu”. Aib terbesar bagi seorang
cendekia untuk mengatakanya. Untuk menyembunyikan ketidaktahuannya, mereka
menjawab dengan jawaban yang lebih mirip teka-teki, ga dipahami, ngawur tapi
kelihatan elegan. Kita yang lebih cinta keindahan daripada kebenaran
mengangguk-nganguk pura-pura paham, seperti orang yang pura-pura mengerti
lukisan abstrak yang ngawur agar dianggap “mengerti” seni. mereka selamat untuk
sementara.
Ah …sebenarnya kita tak perlu berat-berat berpikir, Tuhan itu maha esa, semua tahu itu, dari biksu botak di china sampai Atheis rusia, kalau mau mikir sedikit…sedikit saja. Pasti akan menemukan “jejak” tuhan di mana-mana. Dan jejak itu sayangnya hanya memiliki satu pola yang begitu jelas yaitu “kesempurnaan” ini hanya berarti satu hal yaitu “Tuhan itu esa”. Perhatikanlah burung terbang, betapa sempurna desain tubuh bagian luar dalamnya sehingga dia bisa terbang, ikan yang berenang di lautan memiliki pola yang paling sempurna untuk hidup dilaut, Manusia memiliki pola yang paling sempurna untuk menjadi “pemikir”, Tuhan tidak bermain-main, setiap sel tubuh kita diciptakan dengan keseimbangan luar biasa yang saking seimbangnya kita bisa pelajari sebagiannya, langit yang begitu luas, tak tanggung-tanggung memiliki berjuta-juta galaksi dan galaksi terkecil memiliki seratus miliyar bintang, matahari kita cuma satu dari bintang kecil di langit.
Jika kita “melihat” kita tahu Tuhan itu ada, lalu siapakah Dia? Tak perlu bingung lagi, Tuhan meciptakan begitu banyak “jejak” tentu supaya kita mengetahui Siapakah DIA. Karena Dia sendiri yang memberitahu kita melalui para utusannya, kita tinggal percaya beres. Lho Tapi agama-agama di dunia ini tidak sepakat mengenai “siapakah tuhan?”. Lihat saja Yahudi yang percaya tuhan punya turunan, Begitu juga Nasrani yang bilang ada tuhan Yesus+Bapa+ruh yang berada dalam satu kesatuan, (semacam kepribadian ganda mungkin) Hindu dan Budha lebih parah lagi “Tidak punya konsep ketuhanan”, ga jelas tuhan mereka siapa, tapi percaya “hyang widi” Tuhannya para tuhan. Lalu siapakah tuhan ?
Kalau benar Tuhan ada dan itu yang ada di pikiran orang yang tidak gila.. Dia pasti mampu untuk membuat kita semua mengenal-Nya dari sejak kita lahir, tetapi mengapakah Tuhan tidak melakukannya...,
Tuhan sebenarnya sudah melakukannya tapi bukan dengan cara yang mudah, coba kita pikirkan, kita, dan hanya kitalah yang diberikan otak, dengan otak ini kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka Tuhan memberikan kita otak ini lalu Tuhan memberi kita kesempatan untuk mencarinya dengannya.
Agama banyak, tetapi yang benar tentu hanya satu, tugas otak kitalah memilahnya, mereka yang berpikiran objektif akan menemukan yang satu iti.
Yah.. mungkin agak
sulit menetralisir otak kita dari pengaruh doktrin yang telah sejak kecil
ditanamkan di kepala kita, tapi untuk mencapai yang satu itu, sebagian kita
harus mengakui kekeliruannya. Dan tidak bersikeras membela sesuatu yang
benar-benar salah.
Rabu, 11 April 2012
Ngerokok?? Hmm.. Boleh Gak yaa....
Ngerokok?? Hmm....
Udah banyak banget
peringatan tentang bahaya merokok. Bahkan di bungkus rokoknya sendiri
juga udah ditulis berbagai penyakit yang diakibatkan merokok. Tapi aneh bin
ajaibnya, devisa negara paling besar
berasal dari penjuaan temabakau alias rokok tadi. Nah lho, pusing kagak tuh?
Orang yang ngerokok itu kayak makan racun, tapi racunnya ini bikin negara kaya.
Jadi... gimana sih hukumnya rokok? Yuk, kita bahas satu-satu..
Gara-gara rokok gak ada di zaman rasul, dalam menyikapi
hukum rokok ini, ada beberapa pendapat:
1.
Boleh/mubah,
karena tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya dan mereka menganggap
rokok tidak berbahaya bagi kesehatan serta bukan termasuk muskir (perkara
yang memabukkan) atau mukhoddir (merusak pikiran).
2.
Makruh,
karena tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya, akan tetapi karena
rokok menimbulkan bau yang tidak sedap baik dari asapnya maupun dari mulut
mereka yang mengkonsumsinya, maka mereka menyamakanya dengan hukum mengkonsumsi
bawang merah atau bawang putih mentah.
3.
Wajib,
jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.
4.
Sunnah, jika
dokter ahli yang dapat dipercaya merekomendasikannya sebagai obat bagi
penyakitnya.
5.
Haram,
dengan pertimbangan sebagai berikut :
a.
Para dokter telah sepakat bahwa rokok dapat membahayakan
kesehatan. Mereka yang mengkonsumsinya beresiko terjangkit penyakit kanker,
jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Sedangkan ajaran islam telah memerintahkan
pemeluknya untuk meninggalkan segala
yang membahayakan, sebagaimana firman Allah swt:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)
“dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(al-baqarah :195)
Dan
juga hadits Rasulullah saw:
" لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ ".
“
janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan, dan jangan membalas dengan berbuat
sesuatu yang membahayakan”
b.
Mengkonsumsi rokok juga bisa digolongkan sebagai
tindakan isrof atau tabdzir (pemborosan) harta. Karena membelajaan
harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan berbahaya bagi kesehatan. Dan
pemborosan termasuk hal yang diharamkan, sebagaimana firman Allah swt:
وَآَتِ ذَا
الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ
تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ
الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)
“
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”,
(al-Isra’ : 26-27)
c.
Merokok dapat merubah mental dan watak pecandunya.
Nah, makin pusing ya? Oke, begini penjelasannya
kawan...
Pendapat
pertama, yang menyatakan bahwa merokok adalah
mubah karena tidak membahayakan kesehatan. Para ahli medis telah menyanggah hal
ini dan bersepakat bahwa rokok sangat
berbahaya bagi kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan adalah haram menurut
kesepakatan ulama’.
Pendapat
kedua, yang menyatakan bahwa merokok adalah
makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Inipun tersanggah
dengan alasan di atas, karena semua yang membahayakan, maka hukumnya berubah
menjadi haram. Bahkan wudhu’ yang wajib pun bisa menjadi haram jika
orang yang berwudhu` memiliki penyakit yang berbahaya andai terkena air.
Pendapat
ketiga, yang menyatakan bahwa merokok adalah
wajib ketika membahayakan jiwa jika ditinggalkan. Ini bukanlah hukum asal
(hukum yang berlaku dalam keadaan normal) akan tetapi hukum aridhi yang
baru bisa berlaku ketika keadaan tersebut benar-benar terjadi, bukan dalam
keadaan normal. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan
merokok, karena bahkan hukum memakan bangkai yang asalnya haram bisa menjadi
wajib bagi mereka yang kelaparan dan tidak menemukan hal lain untuk mempertahankan
hidupnya.
Pendapat
keempat, yang menyatakkan kesunahan rokok jika dokter
merekomendasikanya sebagai obat. Ini pun hukum aridhi yang tidak
bisa djadikan landasan dalam keadaan normal, lagipula pada kenyataanya para
ahli medis telah sepakat mengenai bahaya merokok.
Pendapat
terakhir, yang menyatakan keharaman rokok.
Pendapat ini yang paling tepat ditinjau dari segi dalil, Juga lebih berhati-hati (ihtiyath).
Pendapat ini juga sesuai dengan ruh islam yang menjadikan kesehatan
sebagai nikmat yang teramat mahal yang perlu dijaga, serta melarang pemborosan
(isrof) dan selalu menganjurkan untuk menyalurkan harta kepada hal-hal
yang bermanfaat. Allah Swt. berfirman :
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ
فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ
السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)
“ Mereka bertanya tentang apa yang
mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah
diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin
dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang
kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).
Udah jelas kan? Hanya orang-orang jahil (bodoh) yang ketika
diberi tahu sebuah kebenaran, namun menolaknya dengan alasan yang gak logis.
Dan orang yang beriman, akan segera menghindar dari yang haram untuk mendapat
yang halal. Golongan manakah kamu?
Rabu, 27 Juli 2011
Zakat di Negeri Empat Belas Abad Lalu
Bismillahirrahmanirrahiim.
Melihatmu, negeriku..
menyisakan sesak yang tak akhir,
adakah aku harus terdiam menyaksi kematianmu,
padahal aku begitu ingin menunggu
riangnya engkau,
seperti waktu dulu..
negeriku,
inikah dirimu?
Jujur, aku heran dengan negeriku. Muslim di negeriku ini ‘katanya’ mayoritas, bahkan terbesar di dunia. Lihat saja, tiap tahun yang berangkat ke Baitullah untuk menjalankan ibadah suci mencapai ribuan. Bahkan antrian haji udah penuh alias full sampai tahun 2014 nanti. Tapi yang bikin heran itu lho, kok gak kerasa ya Islam itu menyejahterakan? Banyak yang haji, banyak juga yang ingkar janji. Yang shalat gak keitung, tapi kriminalitas juga gak tanggung-tanggung. Orang kaya Islam banyak, tapi yang miskin jauh lebih banyak. Kenapa ya?
menyisakan sesak yang tak akhir,
adakah aku harus terdiam menyaksi kematianmu,
padahal aku begitu ingin menunggu
riangnya engkau,
seperti waktu dulu..
negeriku,
inikah dirimu?
Jujur, aku heran dengan negeriku. Muslim di negeriku ini ‘katanya’ mayoritas, bahkan terbesar di dunia. Lihat saja, tiap tahun yang berangkat ke Baitullah untuk menjalankan ibadah suci mencapai ribuan. Bahkan antrian haji udah penuh alias full sampai tahun 2014 nanti. Tapi yang bikin heran itu lho, kok gak kerasa ya Islam itu menyejahterakan? Banyak yang haji, banyak juga yang ingkar janji. Yang shalat gak keitung, tapi kriminalitas juga gak tanggung-tanggung. Orang kaya Islam banyak, tapi yang miskin jauh lebih banyak. Kenapa ya?
Padahal umur Islam di Indonesia itu udah tua banget, menurut beberapa literatur sejarah sih, Islam bahkan lebih tua daripada Hindu atau Budha. Idealnya, dengan umur yang tua dan pengikut yang banyak ini, Indonesia jadi negara adidaya. Tidak bersembunyi di ketiak negara lain atau lari dari tanggung jawab untuk memperhatikan saudaranya. Tapi nyatanya? Bahkan untuk biaya sekolah rakyatnya sendiri pun Indonesia belum bisa mandiri!
Salah satu yang ada dalam daftar heranku ialah tentang urusan zakat. Pengalaman pribadiku menyebutkan, tiap tahun keluargaku selalu berzakat dua karung beras (maklum jumlah keluargaku kan selusin lebih). Dan anehnya, tiap tahun kami selalu memberi zakat ini pada orang yang sama. Selalu. Bukankah zakat itu semestinya menyejahterakan? Mengapa justru tiap tahun penerima zakat itu itu saja bahkan jumlahnya terus bertambah?
Adakah zakat itu salah? Tidak, kawan. Setiap firman Allah itu benar adanya, tak mungkin Allah menyuruh melakukan sesuatu yang tiada manfaatnya. Lalu mengapa negeriku ini tak jua sejahtera? Bukankah Allah menjanjikan berkahnya harta disebabkan zakat?
Bukanlah zakat itu yang salah, tapi muzakinya, mustahiqnya, amil zakatnya, MANUSIAnya.. Maukah kau, kuajak berkeliling dahulu sejenak? Aku bosan di negeriku, ingin kutunjukkan kau sebuah negeri, yang tiada sengsara di dalamnya, yang kau lihat nanti hanya senyum ikhlas nan damai. Mari ikuti aku, namun berhati-hatilah. Kau akan diserbu bermacam sengatan. Tapi nikmatilah, biarkan sengatan itu menghinggapi seluruh persendian tubuhmu. Dan tularkanlah, pada manusia-manusia di negeriku ini!
Kau lihat lelaki yang memakai surban itu? Dia adalah pemimpin sebuah negeri. Bukan, bukan yang memakai jubah nan indah dengan bermacam hiasan itu. Tapi sampingnya kawan, seorang berjubah kumal lantaran selalu dipakai setiap hari. Ia cuci di sore hari dan diapakai pagi harinya. Karena ia memang hanya punya sehelai baju, ia takut ditanyai Tuhannya di hari akhir kelak tentang hiasan dunia yang ia banggakan itu, makannya ia menjauh dari dunia. Ya, kau harus percaya. Dialah pemimpin negeri yang wilayah kekuasaanya mencapai sepertiga dunia. Dialah Umar bin Abdul Aziz. Sang Khalifah.
Lelaki klimis yang bersama Khalifah tengah duduk santai di rumah sang Khalifah. Di dalam rumahnya hanya ada satu dua macam perabotan, dan sehelai tikar untuk menerima tamu, tak ada kursi atau meja yang megah yang biasa dipamerkan pejabat di negeriku.
“Wahai Khalifah..” ujar sang lelaki pada Umar bin Abdul Aziz ra. “Aku ingin berzakat atas hartaku, tapi..” Wajah lelaki klimis itu sedih dan letih.
“Tapi? apa masalahmu? Apakah kau tidak senang berzakat hingga mukamu begitu muram?” Tanya sang Khalifah.
“Bukan begitu, Khalifah. Aku sudah berkeliling di negeri ini dan tak satupun yang mau menerima zakatku.” Lelaki klimis itu menunduk.
Subhanallah! Kau dengar kata lelaki klimis itu? Tak ada yang mau menerima zakatnya! Sedang di negeriku, zakat itu diburu. Bukan berlomba memberikan yang terbanyak tapi menerima yang terbanyak, kawan!
Kawan, tak malukah engkau? Di negeri empat belas abad yang lalu itu, zakat bermakna suci. Siapa yang berzakat tak pernah rugi, karena ia tengah berniaga dengan Allah sang pemilik rezeki. Niat mereka hanya satu, ridha Tuhannya.
Segalanya memang haruslah dimulai dari dirimu, kawan. Apakah niatmu berzakat? Hanya ikut orangtuakah? Pamerkah? Terserahlah apa niatmu, kawan. Tapi hanya akan ada satu niat yang mampu menyejahterakan. Hanya satu niat yang membuat zakat jadi manfaat. Allah. hanya sebab Allah..
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah...

Aku yakin, kawan..
mampu melihat senyum negeri ini
suatu saat nanti

Aku yakin, kawan..
mampu melihat senyum negeri ini
suatu saat nanti
Bogor, 27 Juli 2011
Kamilatussyafiqoh
Rabu, 20 Juli 2011
aku ini MUSLIM! (aamiin)
Bismillahirrahmanirrahiim..
ada kalanya, kau merasa bosan menjalani hidup, lalu berpikir untuk tiada saja. aku sedang merasakan itu.. tapi, tunggu dulu. tenag saja, kawan, aku sama sekali tidak bermaksud mengakhiri hidupku. terlalu banyak dosaku, bila aku tiada, di neraka bagian manakah aku ditempatkan? Astaghfirullahal'adzim tsumma na'udzbillahi min dzalik.. Ya Allah, au sungguh tak sanggup ke nerakaMu...
aku hanya ingin menulis, kawan. itu saja, agar aku sedikit merasa lega. setidaknya begitu. aku baru merasakan bahwa menjadi muslim itu tiada mudah. sulit sekali, kawan. apalagi bagiku yang sangat awam ini, membuka mata di subuh hari saja harus benar-benar kupaksakan. tidak seperti Rasulullah saw, yang merindu bertemu RabbNya, aku? hanya atas dasar kewajiban semata. ampuni Ya Rabb...
ya, menjadi muslim itu awalannya mengucap sebuah janji: Asyhadualla ilah ha ilallah... Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah. kau tahu apa itu Ilah? Ilah itu sesuatu yang disembah, yang dituruti, yang dipatuhi, yang membuat kita tergantung padanya, yang kita akui kekuasaannya atas diri kita. sesungguhnya tiada Ilah di muka bumi ini, kawan. tiada satupun. ayah, ibu, kakak, kepala sekolah, dosen, guru, bahkan presiden tiada punya kuasa atas diri kita. harta yang banyak, gunung yang tinggi menjulang, langit yang terbentang, awan yang berjalan, pohon-pohon besar, matahari gagah, semua itu pun tak mempunyai hak untuk kita patuhi. apakah mmereka dapat mengatur kita? tidak sama sekali.
sesungguhnya tiada Ilah itu. namun, saat kau lihat semesta, dan menyaksikan betapa rapihnya mereka menjalankan tugas, ada sebuah tanya, adakah sesuatu yang mengatur mereka? matahari yang menyinari bumi di siang hari dan bulan yang menemani di malam hari, teratur dan rapih. awan-awan yang berjalan, lalu menumpahkan air yang menumbuhkan tanaman-tanaman bumi, siapakah yang menggerakkan? lalu tengoklah dirimu, kau punya organ-organ yang selalu tepat dalam fungsi. apakah kau meminta jantung untuk berdetak setiap detiknya? atau paru-paru untuk teratur menyebar oksigen? tidak. lalu siapakah yang mengatur mereka. kekuasaan macam apa yang ada di atas semua ini? tentu ia yang berkuasa sangat hebat, sangat luar biasa, dang sungguh cerdas luar biasa.
maka ikrar itu dilanjutkan dengan sebuah kalimat: Kecuali Allah..
Allah, adalah Sang Pencipta, yang mengatur segala hal di alam semesta agar tetap rapih, Dia pula yang menjadikan organ-organ tubuh menjalankan fungsinya dengan baik. benar, kawan. yang paling hebat dari semua yang ada di alam semesta ini mestilah yang menciptakannya. mestilah Ia yang menciptakannya. siapakah Ia?
Allah..
maka haruslah seseorang yang mengakui keberadaan Sang Pencipta, menjalani atuan Penciptanya, agar ia selamat dari permainan yang disiapkan Penciptanya itu. seperti sebuah permainan dalam telepon genggam atau internet, pasti ada aturannya kan? dan pasti ada tujuannya kan? seperti itulah hidup kita. aturannya sudah tercatat jelas dalam All-Qur'an dan As Sunah sedangkan tujuannya tak lain adalah Ridha atau kelapangan hati Sang Pencipta, agar kita dapat menjadi salah satu pemenang yang menghuni Syurga...
Indah... Indah sekali bukan?
aturan itu, sebenarnya mudah saja, jika hati ini tak terkotori sesuatu apapun. tapi hatiku sudah berkarat. harus dibasuh dengan sikat, sabunnya pun tak cukup satu bungkus, bahkan tak bisa bersih dalam sehari saja, perlu waktu lama, dan mungkin tidak bisa begitu bersih..
tapi, bukan manusia namanya kalau mudah menyerah. Allah, penciptaku, sudah berjanji akan menolong hamba-hambaNya yang memohon padaNya. dan aku ingin terus berjuang, tak akan berhenti untuk merengek meminta ampunan dariNya..
Allah,, kumohon ridhai jalanku.. aamiin
Bogor, 20 Juli 2011
kamilatussyafiqoh
ada kalanya, kau merasa bosan menjalani hidup, lalu berpikir untuk tiada saja. aku sedang merasakan itu.. tapi, tunggu dulu. tenag saja, kawan, aku sama sekali tidak bermaksud mengakhiri hidupku. terlalu banyak dosaku, bila aku tiada, di neraka bagian manakah aku ditempatkan? Astaghfirullahal'adzim tsumma na'udzbillahi min dzalik.. Ya Allah, au sungguh tak sanggup ke nerakaMu...
aku hanya ingin menulis, kawan. itu saja, agar aku sedikit merasa lega. setidaknya begitu. aku baru merasakan bahwa menjadi muslim itu tiada mudah. sulit sekali, kawan. apalagi bagiku yang sangat awam ini, membuka mata di subuh hari saja harus benar-benar kupaksakan. tidak seperti Rasulullah saw, yang merindu bertemu RabbNya, aku? hanya atas dasar kewajiban semata. ampuni Ya Rabb...
ya, menjadi muslim itu awalannya mengucap sebuah janji: Asyhadualla ilah ha ilallah... Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah. kau tahu apa itu Ilah? Ilah itu sesuatu yang disembah, yang dituruti, yang dipatuhi, yang membuat kita tergantung padanya, yang kita akui kekuasaannya atas diri kita. sesungguhnya tiada Ilah di muka bumi ini, kawan. tiada satupun. ayah, ibu, kakak, kepala sekolah, dosen, guru, bahkan presiden tiada punya kuasa atas diri kita. harta yang banyak, gunung yang tinggi menjulang, langit yang terbentang, awan yang berjalan, pohon-pohon besar, matahari gagah, semua itu pun tak mempunyai hak untuk kita patuhi. apakah mmereka dapat mengatur kita? tidak sama sekali.
sesungguhnya tiada Ilah itu. namun, saat kau lihat semesta, dan menyaksikan betapa rapihnya mereka menjalankan tugas, ada sebuah tanya, adakah sesuatu yang mengatur mereka? matahari yang menyinari bumi di siang hari dan bulan yang menemani di malam hari, teratur dan rapih. awan-awan yang berjalan, lalu menumpahkan air yang menumbuhkan tanaman-tanaman bumi, siapakah yang menggerakkan? lalu tengoklah dirimu, kau punya organ-organ yang selalu tepat dalam fungsi. apakah kau meminta jantung untuk berdetak setiap detiknya? atau paru-paru untuk teratur menyebar oksigen? tidak. lalu siapakah yang mengatur mereka. kekuasaan macam apa yang ada di atas semua ini? tentu ia yang berkuasa sangat hebat, sangat luar biasa, dang sungguh cerdas luar biasa.
maka ikrar itu dilanjutkan dengan sebuah kalimat: Kecuali Allah..
Allah, adalah Sang Pencipta, yang mengatur segala hal di alam semesta agar tetap rapih, Dia pula yang menjadikan organ-organ tubuh menjalankan fungsinya dengan baik. benar, kawan. yang paling hebat dari semua yang ada di alam semesta ini mestilah yang menciptakannya. mestilah Ia yang menciptakannya. siapakah Ia?
Allah..
maka haruslah seseorang yang mengakui keberadaan Sang Pencipta, menjalani atuan Penciptanya, agar ia selamat dari permainan yang disiapkan Penciptanya itu. seperti sebuah permainan dalam telepon genggam atau internet, pasti ada aturannya kan? dan pasti ada tujuannya kan? seperti itulah hidup kita. aturannya sudah tercatat jelas dalam All-Qur'an dan As Sunah sedangkan tujuannya tak lain adalah Ridha atau kelapangan hati Sang Pencipta, agar kita dapat menjadi salah satu pemenang yang menghuni Syurga...
Indah... Indah sekali bukan?
aturan itu, sebenarnya mudah saja, jika hati ini tak terkotori sesuatu apapun. tapi hatiku sudah berkarat. harus dibasuh dengan sikat, sabunnya pun tak cukup satu bungkus, bahkan tak bisa bersih dalam sehari saja, perlu waktu lama, dan mungkin tidak bisa begitu bersih..
tapi, bukan manusia namanya kalau mudah menyerah. Allah, penciptaku, sudah berjanji akan menolong hamba-hambaNya yang memohon padaNya. dan aku ingin terus berjuang, tak akan berhenti untuk merengek meminta ampunan dariNya..
Allah,, kumohon ridhai jalanku.. aamiin
Bogor, 20 Juli 2011
kamilatussyafiqoh
Langganan:
Postingan (Atom)
