Welcome!!

Bismillahirrahmanirrahiim....

Rabu, 30 Januari 2013

Kota Ketiga : Pasuruan

Kawan, aku ingin menulis selagi sempat karena tak lama lagi aku akan meninggalkan Bandung. Dan mungkin ini tulisan terakhirku sebelum berangkat kembali ke Pasuruan sebab satu dan lain hal yang malu kusebutkan. hhe

Oke, mari kita bercerita tentang...Pasuruan!! aku belum pernah bercerita padamu tentang kota ini bukan? Baiklah, inilah Pasuruan, kota ketigaku setelah Bandung dan Bogor...

Pasuruan. Hmm, pertama aku menginjakan kaki di tanah Jawa Timur adalah di kota ini. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Santri ini wajib kau kunjungi. Bukan karena kota ini penuh dengan tempat wisata, bukan pula sebab kulinernya yang menggoda. Tapi disinilah kau akan merasakan hawa syurga...

Pasuruan adalah kota kecil yang penuh dengan pesantren. Kurang dari 1 KM dari pesantrenku saja sudah ada pesantren lain. Tapi hebatnya, santrinya tetap saja banyak. Berasal dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura, Keren bukan? Aku pikir hanya Perguruan tinggi saja yang punya murid ribuan, tapi ternyata pesantren pun begitu.

Nah, makannya tak heran jika di kota ini hampir semua orang berpakaian seperti santri. Kalau yang laki-laki tak lepas dari sarung dan baju koko kemanapun ia pergi. Mau ke masjid atau ke Mall, pakaiannya sama. Mau naik motor atau mobil, sarung tak pernah mereka tinggalkan. Begitupun perempuannya, sangat jarang kau menemukan wanita tak berjilbab, bahkan disini banyak sekali wanita yang bercadar.

Selain itu, kota ini tak pernah sepi dari dzikir dan pujian kepada Rasulullah saw. Setiap hari akan kau dengar  lantunan ayat suci Al-Qur'an dari setiap masjid mulai pukul 3 dini hari. Yap, gema bacaan Qur'an saling menimpali antar satu masjid dan masjid yang lain. Lalu, setiap harinya ada saja yang membaca maulid simtud duror, yang berisi kisah perjalanan hidup Rasulullah saw mulai beliau dilahirkan dan perjalanan dakwahnya. Benar-benar menambah kecintaan kepada Rasulullah saw! Bagaimana tidak? bukankah dengan sering menyebut namanya akan semakin membuatmu ingat padanya?

Selain itu, setiap selasa pun akan kau dengar Hadrah Basaudan, kumpulan dzikir penolak bala. Aku baru tahu disini dan segera menyesal, mengapa tak dari dulu aku tahu? lalu ada pula acara yang disebut Burdah, inilah acara yang paling aku sukai! Burdah adalah sekumpulan pujian untuk rasulullah saw. Isinya sangat-sangat luar biasa! Ini adalah syair yang sangat indah. Kau harus mencobanya disini! Coba dengarkan dan resapi. Ahh,, aku jadi rindu membaca Burdah...:)

Kota Pasuruan ini memang kecil, tapi disinilah aku menemukan harta yang teramat besar dan berharga. lebih berharga dibanding emas, perak, dan seluruh perhiasan dunia. Harta itu adalah: Iman dan Ilmu... keduanya mengantarkanmu pada satu kata: Ketenangan..

Selasa, 29 Januari 2013

Digerebek Bu Lurah dan Geng Bocil

Kawan, berapa lama ya aku tak mengganggumu,, hemm seminggu? sebulan? kurasa lebih dari itu. Dan hari ini aku ingin kembali menulis!! huaa,,,, bersiaplah kau karena aku akan menari dengan lincah di atas keyboard!! hhe

dan aku tahu kau merindukanku, senang rasanya menjadi orang yang dirindu..:)

Kawan, tahukah kau bahwa Allah tak pernah berhenti membuat kejutan untuk hamba-hambaNya? Kau harus percaya karena dengan begitu kau akan mengalami banyak keajaiban atas sesuatu yang kau rasa mustahil. untuk hal ini aku ingin bercerita padamu tentang hari ini. Dengarkanlah..

Hari ini hari selasa, kau pun tahu. tapi yang kau tak tahu hari ini aku sangat bahagia!! Baru saja rumahku digerebek bu lurah membawa bocah-bocah cilik yang imut-imut. Nah lho, digerebek bu lurah kok bahagia???

Tunggu dulu saudara-saudara, yang ini bukan sembarang bu lurah. Tapi Bu Lurah AGH 47, departemen yang kugeluti saat berada di Institut Pertanian Bogor. Aku benar-benar tak menyangka Bu Lurah bersedia mampir ke rumah sederhanaku, dan kebahagiaanku bertambah ketika melihat bocah-bocah cilik yang dibawa bu Lurah, ah betapa aku merindukan kalian semua!!

Yap, baru saja Liezda, bu Lurah AGH dan geng bocil (Atika, Wida, Zamroh, Takbir) menjengukku. huaaa,, senangnyaaaa,,, serasa ingin melompat-lompat, jungkir balik saking senengnya! Aku sangat merindukan AGH, meskipun tak lama aku menjadi bagian dari keluarga AGH 47, tapi mereka sudah berada dalam hatiku dan tak pernah terlupa..(walau lebay, ini nyata lho!)

Dan ini adalah kejutan Allah untukku, sebuah kejutan yang sangat indah di hari Selasa yang penuh barakah. orang-orang sibuk macam mereka menyempatkan mampir ke rumahku?? Wahh,, itu sangat-sangat spesial untukku. Terimakasih atas kunjungan kalian, sahabat-sahabatku.. :) Buat teman yang lain, kalau sempat mampir jugalah ke rumah sederhanaku ini... ;)

aku jadi merindu pada suatu masa,,
saat masih menjadi bagian dari civitas akademika IPB..
Ahh,, banyak tawa dan tangis yang tercipta..
tak ada yang seperti kalian,
AGH 47...



Senin, 28 Januari 2013

Cinta Muhammad untuk Yesus

Buka-buka file,, ini cerpenku zaman lawas.. haha
silahkan menikmati.. :D



Aku sudah pernah mendengar cerita tentang Romeo and Juliete sedari dulu. Bahkan karena kegemaranku membaca, Laila Majnun hingga Taj Mahal sudah kulahap habis. Cinta, katanya mampu membuat orang gila, rela melakukan apapun deminya. Aku tidak percaya sama sekali. Atas dasar apa seorang meninggalkan keluarganya hanya demi orang yang baru datang dalam hidupnya?  Namun, aku termakan ucapanku sendiri, seperti hewan yang memakan kotorannya sendiri.
Aku jatuh cinta. Dalam kesendirian, aku memikirkannya. Bahkan saat ramai pun aku masih mengingatnya. Ah, cinta, mengapa kau menyiksaku dalam permainanmu?
“Biarkan aku menyentuhmu sekali saja. Aku berjanji akan menikahimu.” Ujar lelaki itu. Dia yang hadir mengisi relung hatiku. Aku takut. Tak kah kau lihat jilbab lebarku? Aku tak pernah sekalipun menyentuh lelaki yang bukan muhrim, tapi saat ini aku begitu bingung. Aku takut kehilangan cintanya. Tapi bukankah ini dosa? Ah, cinta..
Aku mengangguk, dan ia memegang tanganku. Aku tersenyum, tapi hatiku menangis. Saat ingin kulepas tanganku, ia mengecupnya! Aku tak kuasa menolaknya. Tersenyum sesaat, lalu pergi..
Percayakah kau bila kukatakan bahwa yang barusan berbuat nista itu aktivis dakwah? Kau harus percaya, karena aku pun teman seperjuangannya, dalam dakwah kampus kami.
“Kak, apakah ini bukan dosa?” tanyaku saat ia memintaku untuk pacaran, namun ia samarkan istilahnya menjadi taaruf.
“Semoga tidak, karena niat kita untuk beribadah, de. Pada akhirnya insya Allah kita akan menikah, percayalah pada kakak. “ Senyum dan ketegasannya membuatku mempercayakan hatiku padanya.
Aku memang sudah lama menyimpan benih cinta ini padanya semenjak aku melihat sepak tejangnya di dakwah kampus. Ia tak pernah mengenal lelah, bahkan saat orang lain istirahat, ia terlihat tetap sibuk. Ia rela mengorbankan waktu dan biaya demi dakwah yang dicintainya. Padahal, kudengar ia adalah mualaf, lahir dari keluarga nasrani yang taat. Sudah sebulan lalu ia menyandang status muslim, dan semenjak itu Jonathan tidak pernah terdengar lagi di kampus, karena namanya telah diganti menjadi nama yang begitu mulia: Muhammad.
Pernah kutanyakan mengapa ia begitu bersemangat untuk memperjuangkan dakwah kampus , padahal ia baru saja masuk Islam.
“Karena aku ingin mereka merasakan indahnya islam seperti yang kurasakan. “ Tegasnya. Ah, betapa ia sempurna di mataku!
Dan kini, sudah enam bulan kami pacaran. Tentu sembunyi-sembunyi, gawat kalau sampai teman-teman tahu apa yang kami lakukan. Banyak yang telah kami lewati bersama. Saat libur semester, aku pura-pura pulang ke kampung halaman, padahal jalan-jalan bersama Muhammad. Berkeliling di sekitar kebun raya, dan saling memandang penuh cinta. Kalau dia sedang luang, sering ia meneleponku berjam-jam, dan aku harus memastikan kamarku terkunci rapat, agar keluargaku tidak mendengar percakapanku denganya. Ah, betapa bahagianya kami... aku ingin segera dipinang olehnya, agar kami tak perlu lagi bersembunyi seperti ini.
“Kak, kapan kita menikah?” tanyaku saat kami tengah berduaan di rumahku. Kebetulan keluargaku sedang pergi menengok kakek yang sakit.
“Adek maunya kapan?” Tanyanya setengah bercanda.
“Adek ingin secepatnya, Kak. Adek gak mau sembunyi-sembunyi terus kayak gini” Aku menghela napas dalam-dalam sambil menunduk.
“Dek..” ujarnya lembut. “Coba liat kakak” aku menatap matanya yang indah. Ia memegang tangaku kemudian mengatupkan di dadanya.
“Adek sayang sama kakak?” tanyanya. Aku mengangguk pasti.  “Kakak pasti menikahi adek. Percaya kan sama kakak?” lagi-lagi kata ini yang ia ucapkan setiap kali kuminta ia mengkhitbahku.
“Adek percaya kak. Tapi kapan kakak akan menikahi adek?” aku sudah benar-benar tak kuat. Apalagi kemarin hubungan kami sempat tercium lembaga dakwah kampus kami. Untung saja tidak ada bukti yang bisa menyatakan kami pacaran, sehingga kami terbebas. Belakangan ini, aku juga merasa munafik. Sebab aku juga mengajari adikku tentang Islam dan dengan tegas melarangnya pacaran. Ah, padahal aku sendiri berpacaran!
Muhammad memandangku dalam-dalam. Aku melihatnya. Wajahnya cukup tampan, meskipun matanya sipit seperti keluarga tionghoanya, tapi hidung mancung dan bibir tipisnya cukup untuk melukis wajahnya menjadi sedemikian indah. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku mencintainya, seperti cinta Qais yang membuatnya majnun, seperti itulah aku saat ini.
“Kakak akan melamarmu malam ini, apakah kau bersedia?” Muhammad berkata mantap.
“Benarkah? Kakak tidak bohong kan?”  ia mengangguk, hatiku berbunga-bunga.
“Dimana orangtuamu? Biar kita saja yang menghampiri mereka. Semoga mereka mau menerimaku sebagai menantunya.”
Aku senang sekali. Ternyata janji Muhammad bukanlah janji palsu seperti yang kukhawatirkan. Tak sadar, aku memeluknya erat.
Malamnya, kami pergi ke rumah kakek. Dan tak disangka-sangka, orangtuaku menerimanya dengan baik, bahkan kakekku juga turut bahagia menyambutnya. Keluargaku tak peduli masa lalu Muhammad, mereka sangat tersanjung dengan cerita Muhammad dan aktivitas dakwahnya di kampus. Mereka meminta kami bersegera menikah. Meskipun kakak baru saja menyelesaikan studinya, tapi ia sudah punya pekerjaan di perusahaan asing Jakarta. Ia memang pintar dan tekun, belum saja lulus sudah banyak perusahaan yang memintanya bergabung. Maka dari itu, orangtuaku meminta kami segera melangsungkan pernikahan, karena tak ada yang perlu kami khawatirkan lagi.
Bulan selanjutnya, kami sudah menjadi suami-istri. Dan aku merasa jadi orang yang paling bahagia sedunia! Bayangkan, suamiku tak pernah bosan untuk membawakan sekuntum mawar bersama ucapan sayang setiap kali pulang kerja. Ia bahkan selalu menyanjungku dimanapun kami berada. Dan meskipun aku tak terlalu pandai masak, ia selalu mengatakan bahwa masakanku adalah masakan terlezat sedunia! Sungguh, aku tak pernah menyesal menikahinya.
Sebulan berlalu, dan kandunganku menyempurnakan segalanya. Ya, aku hamil! Suamiku makin menjadi sayangnya. Ia tak pernah membiarkanku letih. Ia tak pernah absen menemaniku cek kehamilan tiap bulan, bahkan pada waktu aku merasa kelahiran anak kami sudah tiba, ia rela membatalkan seluruh perjanjian dan cuti kerja!
“Abi gak kerja?” tanyaku pada Muhammad yang kupanggil Abi semenjak kami menikah.
“sssttt!” ia menutup mulutku. “Kau lebih penting.” Mengerjap centil padaku. Dan aku tersenyum bahagia. “Aku tak sabar melihat anak kita, Umi..” ujarnya.
Sempurnalah hidup kami. Dan waktu pun berlalu. Anak kami sudah berusia satu tahun saat tiba-tiba kupergoki suamiku tengah berdo’a. Tak masalah dengan do’anya, tapi kau lihat dia? Berdo’a dengan cara nasrani?!
“A... Abbii..” tegurku, ia melirikku. “Apa yang Abi lakukan?”
“Dengarkan Aku, Rena.” Baru kali ini aku mendengarnya memanggil namaku langsung semenjak pernikahan kami. “Semalam aku bermimpi bertemu Tuhan Yesus.” Aku tersentak! Yesus??? “Setelah bertahun-tahun Dia meninggalkanku, dia datang kembali. Ia mengingnkan aku untuk kembali pada jalanNya.” Ia berkata tanpa beban.
“Abi, jangan bertindak bodoh! Ini bukan dirimu!!” aku menangis. Mengapa ia tiba-tiba ingin kembali ke agamanya?
“Ini adalah jalan yang benar, Rena. Ikutlah bersamaku.” Ia agak keras.
“Tapi...”
“Kalau kau tidak mau ikut, biarkan Rizki bersamaku.” Dia meginginkan anak kami untuk menjalankan agama bersamanya?
“Abi..” Aku menangis lebih keras.
“Ikutlah bersamaku ke Riau. Percayalah padaku, seperti sebelumnya kau percaya padaku. Aku ingin kita berkumpul sebagai keluarga lagi di syurga Tuhan.”
......
Satu bunga syurga telah gugur.

Kamilatussyafiqoh

Rabu, 23 Januari 2013

Jangan Khawatir, Saudaraku..


Jangan khawatir saudaraku

jika mereka terlalu memuja Rasulnya

bukankah dahulu para sahabat begitu memuja Rasul...

berdesak-desak, terlihat hampir seperti berbunuh-bunuhan

hanya demi sehelai rambutnya ..


Jangan khawatir Saudaraku …

Dekatilah  orang terbodoh dari mereka Dan tanyalah… “Siapa Muhammad ?”

Kau akan dapatkan jawaban, dibalik wajah lugunya yang heran dengan tanyamu

“Dia adalah utusan Allah”

tanyalah sekali lagi…lagi… dan lagi… tanyakan pada semua pemuja,

dan sia-sia kau menanti jawaban “Dia adalah anak tuhan” atau “dia Adalah tuhan”..

sungguh si pemuja akan marah jika kau katakan begitu…


Jangan khawatir Saudaraku …

jika mereka terlalu memuja Rasulnya

Tapi takutlah jika mereka berhenti memuja .

Dan mulai membasahi mulutnya dengan nama-nama ulama, pemain bola, artis, penyanyi

Tetapi lupa memuja rasul-Nya..

dan lebih takutlah ketika mereka mulai benci ketika mendengar Nama Rasul diagungkan....


Jangan khawatir Saudaraku …

jika di hari lahirnya Rasul kita dipuji..

tapi takutlah ketika kau tidak mendengar satu untai sajakpun untuk memuja Rasul di hari itu...

sedang di hari lahir mereka sendiri...,

sedang di hari lahir sahabat-sahabat mereka...

sedang di hari-hari lahir kekasih mereka….

Mereka bersyukur karena dilahirkan di dunia

Dan tak lupa berkata

 "selamat hari milad saudara..."


Dan lebih takutlah jika di hari itu,

mereka mulai  tak sudi sedikit saja mendengar

"salam bagimu wahai makhluk terindah ciptaan Allah "

yah hanya sedikit saja....

Minggu, 02 Desember 2012

Catatan Seorang MahaSantri

Orang Hilang!

mungkin itu status paling tepat untukku. bagaimana tidak, tanpa ada hujan atau angin, tiba-tiba saja aku tidak ada. meninggalkan dua kota yang masing-masing memiliki bagian dari hatiku. Bogor, dan Bandung..
meninggalkan teman-teman tanpa satu kabar apapun,
membiarkan studi yang baru setengah jadi begitu saja,
'menelantarkan' cita-cita yang kutulis di dinding kamar, seratus lebih jumlahnya,
tentang usaha coklat yang kuimpikan,
tentang Jerman yang kudamba,
tentang lomba-lomba yang kuikuti,
tentang hidupku..

Kawan, kini aku kembaliiii!!!!! Meski hanya sehari, untuk bertukar kata denganmu yang kurindu.. adakah kau ingin tahu kabarku? Duduk manislah, aku akan bercerita padamu, tentang dimensi yang kukira sudah terkubur di negeri mimpi..

Satu provinsi yang kukira tidak akan pernah kukunjungi ternyata kini ikut ambil bagian dalam hidupku. Jawa Timur, tepatnya di kota Pasuruanlah kini aku berdiri, menatap sebuah masa depan yang baru. seratus delapan puluh derajat, sebesar itulah kubelokkan mimpi. gelarku kini bukan mahasiswa lagi kawan, tapi seorang santri. Hei, jangan kau remehkan santri! Tanpa kami, gelap gulitalah dunia. Sebab hakikatnya dunia memang sebuah kegelapan.Agamalah penerang yang dapat menunjukkanmu mana jalan yang benar menuju Ridha Allah. Dan kami, SANTRI, adalah pemegang cahaya itu. keren, bukan?

Hmmm,, sepertinya tak usahlah aku ceritakan tentang kisah dibalik perpindahanku kesini, ada sesuatu yang lebih penting dari itu. kawan, aku akan membawamu kesini, ke rumahku yang baru.. :)

gimana rasanya jadi santri? Pasti ini yang akan kau tanya. aku sebenarnya ingin bercerita banyak, tapi biarkanlah kuringkas dalam sebuah puisi, agar kau mengerti lebih dari sebuah rasa.

Kawan, sekarang aku seorang santri,
bukan mahasiswa lagi,
kini adalah cela bila melihat dan dilihat lelaki
kau lihat, dari balik bilik ustadz mengajar kami

Kawan, sekarang aku seorang santri,
adalah aib tidak bangun saat dini hari,
dengarlah, riuh antrian wudhu sejak jam tiga pagi

Kawan, kini aku seorang santri,
pagi-sore lisan mengucap kalam Illahi,
perhatikanlah, macam wirid menghiasi

Kawan, kini aku seorang santri,
yang membawa ilmu hakiki
dari para imam yang berhati suci

Kawan, kini aku seorang santri,
bukan mahasiswa lagi..
 --

*Salam rinduku untuk semua teman di Bogor yang tengah menuntut ilmu, jangan pernah sepelekan agama ya.. Banyak sekali aturan syari'at yang salah kaprah di masyarakat. betapa ingin aku meluruskannya, semoga Allah berkehendak..Aamiin.
Salam paling spesial untuk geng Bocil, yang 'mengecilkanku'.. hhe.
Ika, tetap berkarya! ayo mana puisinya?
Wida, kembangkan potensi! kapan-kapan pengen qosidah ya?hhe
Amloh, SEMANGAT! hidup tidak akan berhenti hanya sebab masalahmu. Live must go on!
Abil, mmm apa ya? ntar traktir eksrim lagi yaa (lho??)

semoga Allah mempertemukanku kembali pada kalian, tiada yang bisa menggantikan kedudukan kalian disini (ceritanya sama megang dada ini, jadi maksudnya gak ada yang menggantikan kalian di hatiku,, hhe, so sweet kan??).  

Senin, 20 Agustus 2012

Selamat Tinggal, Kawan!


Bismillahirrahmanirrahiim..

Dua puluh tahun usiaku. Banyak yang menyangka usiaku dua pertiga dari itu sebab perawakanku dan untuk itu aku senang, serasa awet muda. Namun tetap saja itu tak mengubah kenyataan bahwa aku sudah menghabiskan dua puluh tahun usiaku (lebih beberapa bulan) di dunia sebagai seorang kamilatussyafiqoh yahya. Jejak-jejak perjalananku masih terekam dengan jelas dalam memori di kepalaku ini. Aku sebagai anak cengeng di Taman Kanak-kanak, anak yang manja saat Sekolah Dasar, dan manusia yang polos dan lugu hingga kini (hhe). Dan kalau dipikir-pikir dalam masalah agama, aku lebih banyak melakukan kesalahan daripada kebaikan. Jika Allah berlaku adil kepadaku sebagaimana amalan duniaku, sudah barang tentu tempatku di akhirat kelak adalah neraka sebab timbangan kiriku akan jauh lebih berat dibanding timbangan sebelah kanan. Astaghfirullah, Allah ampuni kami, rahmatilah kami, sungguh aku tak sanggup ke nerakaMu.. T.T

Kini aku adalah mahasiswa tingkat 2 yang baru akan memasuki tingkat 3 di sebuah Institut di Bogor. Dalam perjalananku sebagai mahasiswa, orientasi hidupku adalah membahagiakan orangtua. Hanya itu. Aku ingin yang kulukis di wajah kedua orang yang mendidikku itu adalah senyuman indah. Sayangnya orientasi ini seakan mengabur seiring berjalannya waktu, aku lebih sering mengikuti keinginan nafsu dibanding apa yang orangtuaku harapkan. Aku seolah-olah kehilangan orientasi itu sampai-sampai tak menyadari bahwa aku telah menusuk-nusuk hati keduanya hingga tak ada sama sekali senyum di wajah mereka. Tangis, itu yang kucipta.

Hingga suatu hari aku menyentuh ilmu agama, hanya pinggirnya saja dan itu cukup untuk membuatku sadar betapa bodohnya aku selama ini. Betapa sok pintarnya aku dengan ilmu agama yang nihil berbicara tentang agama di hadapan teman-teman atau adik tingkat yang kukenal. Dan baru kutahu bahwa mempelajari ilmu agama adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap orang sedangkan ilmu dunia fardhu kifayah, wajib bagi sebagian orang demi kemaslahatan bersama. Namun nyatanya, lebih banyak mereka yang memahami ilmu dunia dibanding ilmu agama. Lihatlah betapa majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini dan betapa terperosoknya orang-orang yang mengaku muslim pada kegelapan sebab ketidaktahuan mereka pada aturan-aturan yang ada dalam agama mereka.

Maka kusesali dua puluh tahunku yang berlalu. Mengapa tidak kuperjuangkan keinginanku pesantren dahulu seperti kuperjuangkan keinginanku menjadi mahasiswa? Sesalku ini tak akan terobati sebelum kupahami benar ilmu Islam. Maka aku harus bertindak! Aku masih terhitung muda dan otakku masih bekerja dengan baik, ingatanku pun belum terlalu buruk. Kini kau lihat sendiri, pikiran-pikiran berkeliaran, tumpuk menumpuk.
Apakah harus kutinggalkan kuliah untuk mempelajari agama? Ah, bukankah aku bisa belajar agama sambil kuliah? Tidak, tidak, aku harus fokus mempelajari ilmu agama, akan sulit kalau harus sambil kuliah. Ah, tapi bukankah tinggal dua tahun lagi kau menjadi sarjana? Tunggulah sejenak. Tapi aku takut tak sampai usiaku dua tahun lagi kemudian aku ditanya mengapa aku mengerjakan ibadah tanpa ilmu dan aku harus menjawab apa pada Rabbku? Sebab aku harus kuliah demi mencari dunia yang hina?? Ahhh,,

Maka untuk orang seperti aku, yang amal shalehnya saja sedikit, ditambah keraguan apakah amal yang sedikit itu diterima Allah atau tidak sebab aku mengerjakan tanpa ilmu padahal banyak tempat yang menyediakan ilmu itu, ditambah lagi banyak pemahaman keliru yang kuadopsi dan kutularkan pada orang-orang di sekitarku, maka keputusan inilah yang kuambil.

Selamat tinggal, kawan! Do’akan aku mampu memahami ilmu agama dengan baik.

Sesungguhnya bila kau serahkan seluruh jiwa ragamu untuk ilmu, maka ilmu akan memberimu sebagian darinya. (Imam Ghazali)

Minggu, 12 Agustus 2012

Bertanya

Allah tahu aku lemah,
lalu Ia menyuguhkan ujian yang berat
dan aku mengeluh,
berkata pada rembulan malam hari
bilakah pengakhiran itu tiba?

rembulan cemberut
mendengar tanyaku ia perlahan surut
menyerahkan tanya pada mentari pagi hari
tapi mentari hanya berdiam diri
lalu tanpa pamit ia meninggalkanku sendiri

dan aku sendiri,
bertanya pada siapa lagi??