Welcome!!

Bismillahirrahmanirrahiim....

Jumat, 05 Juli 2013

Rindu yang Liar

Dia tak bisa melupakannya secepat itu, rindu itu selalu muncul. Detik ini ia kubur, detik berikutnya bangkit kembali. Musim dingin sudah berlalu dua kali, namun rindu itu malah bertambah lipatan kali. Dan semakin mengenaskan saat ia tahu, hanya ia yang merindu. Yang dirindu sama sekali tak peduli, bahkan menoleh untuk sekedar tersenyum basa-basi pun tidak. Kawan, lalu mengapa rindu itu tak pupus saja? Mengapa ia malah tumbuh semakin subur? Mungkin karena rindunya adalah rindu yang liar. Maka seperti segala sesuatu yang liar, mereka tak mesti dirawat, tumbuh dengan sendirinya. Tinggi besar. Cara untuk menghilangkan sesuatu yang liar hanya dua:

Mencabutnya dengan paksa! dan ini akan sangat sakit sekali. cara yang cepat tapi sakit. 

atau..

Membiarkannya mati denga sendirinya. Semua ada masanya bukan? Begitu pun si liar ini. Kelak ia akan mati tanpa kau minta. Kau cukup berdamai dengannya. Tapi untuk perdamaian dengan si liar, kau perlu bersabar karena waktunya tak sebentar.

Dia terdiam. Jalan mana yang ia pilih? Ia tak ingin rindu ini hilang. Tapi menggenggam rindu ini seperti menggenggam tangkai bunga mawar. duri-duri bunga mawar telah membuat tangannya terluka, darah mengalir.. Tapi apakah perindu merasakan sakit? Tidak, ia hanya melihat indahnya mawar yang ia genggam. Ia tidak lagi merasa.

Dia tersenyum. Ya, ia sudah memilih.

Dia memilih untuk tidak memilih.

Sabtu, 29 Juni 2013

Ustadzah Sebenarnya

Kawan, apa kau tahu betapa mengerikannya dunia ini?

Sebegitu mengerikannya sehingga banyak dari manusia yang akalnya pendek mengambil jalan pintas menuju kedamaian (menurut mereka) dengan mengakhiri hidupnya. dengar! 50.000 orang Indonesia bunuh diri tiap tahunnya. itu artinya sekitar 137 orang bunuh diri tiap harinya! terlepas dari tindakan bodoh mereka yang tentu sangat dilarang dalam agama manapun (kecuali agama bodoh), ini pertanda betapa banyak yang ingin lari dari dunia ini!

Termasuk aku. sungguh aku muak dengan segala yang disuguhkan dunia. Tapi tunggu, bukan berarti aku mau menjadi salah satu dari 50000 orang bodoh itu. TIDAK. Aku lebih tertarik dengan mereka yang raganya berdiri dan berjalan di dunia, tapi jiwanya telah terpisah dari segala bentuk kehidupan dunia. Mereka yang dengan melihatnya saja kau sudah dapat merasakan dimensi kehidupan yang berbeda.

Mau kuperkenalkan salah satu dari mereka?

Dia seorang santriwati pondok Az-Zahro di Hadramaut, Tarim.  Ia bukan santri yang pintar, bukan pula santri yang bodoh. Ia juga tidak begitu cantik, maksudku cantik dalam kamus kebanyakan orang. Wajahnya hitam legam seperti wajah oarang kebanyakan di daerahnya, Somalia. Ia benar-benar santri yang biasa, bahkan sangat biasa.

Tapi ada satu keunikannya yang tidak dimiliki santri yang lainnya. Jika para santri datang ke pondok hanya sekedar mendapatkan ilmu, tapi ia tidak.Setiap kali akan belajar, ia selalu terlebih dahulu merapikan sandal dan sepatu teman-temannya di depan masjid tempat mereka belajar. Ia tata berdasarakan warna dan ukuran sehingga teman-temannya mudah untuk mencari ala kaki mereka.

Ia tidak pernah merasa malu saat beberapa temannya menatap heran penuh tanda tanya dengan kebiasaan 'aneh'nya itu. Ia juga tidak menghardik saat teman-temannya mengambil alas kaki mereka tanpa mempedulikan alas kaki yang lain, yang membuat tatanan alas kaki seketika berantakan. Ia pun tak mengharap kata terimakasih. Buktiya, meski tak pernah ada satu pun temannya yang mengucapkan terima kasih ia tetap merapikan alas mereka. Ia ingin mengamalkan ilmunya meski hanya hal yang sepele.

Tahun-tahun berlalu, kini tibalah saatnya santri Az-zahro disebar ke berbagai daerah untuk mengajari ilmu agama yang mereka pelajari pada masyarakat. Begitupun gadis Somalia ini. Ia bersama beberapa kawannya ditugaskan di sebuah pelosok. Tapi tahukah kau kawan? ia tak berubah. Bukannya mengajari masyarakat, ia malah sibuk merapikan alas kaki!

Yap, sementara kawan-kawannya mengajar, ia malah sibuk merapikan alas kaki jamaah yang hadir. ia susun berdasarkan ukuran dan warna sehingga terlihat rapi. Semakin banyak alas kaki yang ia rapikan, maka ia semakin senang karena itu berarti jumlah jamaah pun semakin banyak. Sepanjang penugasan itu, ia tak pernah duduk sebagai 'ustadzah'. Ia merasa malu dan tak pantas.

Hingga akhirnya, hari itu pun tiba. Mereka harus kembali ke Pondok untuk melaporkan penugasan mereka. Mereka pun berpamitan pada penduduk, namun tiba-tiba seorang Ibu  menyalami gadis Somalia itu sambil terus mengucap, "terimakasih, Ustadzah."

Kawan-kawannya terheran-heran, apalagi dia. Dia kan tak pernah menjadi ustadzah?
"Ibu, mengapa berterimaksih? Saya bukan ustadzah." Katanya sambil melepaskan genggaman kuat si Ibu.

"Kau Ustadzah. kau mengajari anakku banyak hal." Jawaban Ibu itu membuatnya semakin heran.

"Maksud Ibu? Kapan dan dimana saya megajar anak Ibu?" Tanyanya.

"Anakku itu selalup pulang tanpa mempedulikan dimana ia simpan alas kakinya, sehingga rak sepatu kami selalu berantakan. Berulang kali aku menegurnya, tapi ia tak pernah mendengarkan. Namun suatu hari, ia merapikan  alas kakinya sendiri! Bahkan ia merapikan alas kaki yang lainnya berdasarkan ukuran dan warna. Saat kutanya darimana ia belajar ini semua, ia bilang kaulah yang mengajarkannya." Jelas ibu itu panjang lebar.

Gadis Somalia itu terpaku. Ia tak pernah menyangka hal sepele yang ia kerjakan mampu mengubah sikap seorang anak.




Sabtu, 22 Juni 2013

ketika santri libur

Berapa lama ya aku tak menghiasi blog ini... hmmm,,
entahlah perasaan seperti apa ini, ketika keluar dari rumah pink itu, ada sesuatu yang membuat sesuatu dalam diri ini berteriak "Hore!!". Ya, aku bisa makan apapun yang aku mau, pergi kemanapun yang kuingin, membaca buku apapun tanpa larangan atau sitaan, tidak perlu lagi mengantri untuk sekedar buang hajat, tak ada aturan lagi!!! ya, kami berteriak dalam hati kami. teriakan kebebasan!

Tapi...
euforia kebebasan itu segera bungkam. Tidak, bukan karena aku tak mendapatkan apa yang kuingin. Rumah pink itu bukan sekedar bangunan, ia telah merasuk ke dalam hati. Benteng yang ia bangun di dalam balutan cat pink itu ternyata tidak sekedar menata fisikku, tapi juga sanubari. Benteng itu bernama "malu".

Ya, karena malu lah aku menjadi risih bila berada di luar rumah terlalu lama. Padahal sebelum ini, aku adalah mahasiswi berani yang pulang pergi tanpa pernah ditemani. bahkan aku pernah pulang dari Tegal ke Bandung sendiri! sekarang, bukannya aku tak berani. aku masih pemberani, tapi bila bertemu makhluk bernama lelaki, seketika hatiku risih. tidak, aku tak mau melihat atau dilihatnya. aku malu...

karena malu pula aku bersedih ketika melihat kenyataan, ilmu agama yang kutuntut beberapa bulan terakhir ini ternyata belum sepenuhnya kuamalkan. Aku malu jika ada keluargaku yang tak sempurna menjalankan ibadah, oleh karena itu aku memberitahu mereka. aku juga malu jika melihat teman-temanku pun tak sepenuhnya paham agama, maka meluruskan mereka adalah wajib.

Maka keluar dari rumah pink itu bukanllah berarti kebebasan. Namun sebenarnya aku keluar dari syurga untuk menghadapi neraka. Aku harus lebih kuat, lebih tegas, disiplin, kreatif, dan tentu siap menghadapi syetan berwujud manusia.

Kini, aku merindu rumah pink itu. bukan senyum yang terkembang ketika kaki menjejak dunia luar, tapi tangis tanpa henti..

Rabu, 30 Januari 2013

Kota Ketiga : Pasuruan

Kawan, aku ingin menulis selagi sempat karena tak lama lagi aku akan meninggalkan Bandung. Dan mungkin ini tulisan terakhirku sebelum berangkat kembali ke Pasuruan sebab satu dan lain hal yang malu kusebutkan. hhe

Oke, mari kita bercerita tentang...Pasuruan!! aku belum pernah bercerita padamu tentang kota ini bukan? Baiklah, inilah Pasuruan, kota ketigaku setelah Bandung dan Bogor...

Pasuruan. Hmm, pertama aku menginjakan kaki di tanah Jawa Timur adalah di kota ini. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Santri ini wajib kau kunjungi. Bukan karena kota ini penuh dengan tempat wisata, bukan pula sebab kulinernya yang menggoda. Tapi disinilah kau akan merasakan hawa syurga...

Pasuruan adalah kota kecil yang penuh dengan pesantren. Kurang dari 1 KM dari pesantrenku saja sudah ada pesantren lain. Tapi hebatnya, santrinya tetap saja banyak. Berasal dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura, Keren bukan? Aku pikir hanya Perguruan tinggi saja yang punya murid ribuan, tapi ternyata pesantren pun begitu.

Nah, makannya tak heran jika di kota ini hampir semua orang berpakaian seperti santri. Kalau yang laki-laki tak lepas dari sarung dan baju koko kemanapun ia pergi. Mau ke masjid atau ke Mall, pakaiannya sama. Mau naik motor atau mobil, sarung tak pernah mereka tinggalkan. Begitupun perempuannya, sangat jarang kau menemukan wanita tak berjilbab, bahkan disini banyak sekali wanita yang bercadar.

Selain itu, kota ini tak pernah sepi dari dzikir dan pujian kepada Rasulullah saw. Setiap hari akan kau dengar  lantunan ayat suci Al-Qur'an dari setiap masjid mulai pukul 3 dini hari. Yap, gema bacaan Qur'an saling menimpali antar satu masjid dan masjid yang lain. Lalu, setiap harinya ada saja yang membaca maulid simtud duror, yang berisi kisah perjalanan hidup Rasulullah saw mulai beliau dilahirkan dan perjalanan dakwahnya. Benar-benar menambah kecintaan kepada Rasulullah saw! Bagaimana tidak? bukankah dengan sering menyebut namanya akan semakin membuatmu ingat padanya?

Selain itu, setiap selasa pun akan kau dengar Hadrah Basaudan, kumpulan dzikir penolak bala. Aku baru tahu disini dan segera menyesal, mengapa tak dari dulu aku tahu? lalu ada pula acara yang disebut Burdah, inilah acara yang paling aku sukai! Burdah adalah sekumpulan pujian untuk rasulullah saw. Isinya sangat-sangat luar biasa! Ini adalah syair yang sangat indah. Kau harus mencobanya disini! Coba dengarkan dan resapi. Ahh,, aku jadi rindu membaca Burdah...:)

Kota Pasuruan ini memang kecil, tapi disinilah aku menemukan harta yang teramat besar dan berharga. lebih berharga dibanding emas, perak, dan seluruh perhiasan dunia. Harta itu adalah: Iman dan Ilmu... keduanya mengantarkanmu pada satu kata: Ketenangan..

Selasa, 29 Januari 2013

Digerebek Bu Lurah dan Geng Bocil

Kawan, berapa lama ya aku tak mengganggumu,, hemm seminggu? sebulan? kurasa lebih dari itu. Dan hari ini aku ingin kembali menulis!! huaa,,,, bersiaplah kau karena aku akan menari dengan lincah di atas keyboard!! hhe

dan aku tahu kau merindukanku, senang rasanya menjadi orang yang dirindu..:)

Kawan, tahukah kau bahwa Allah tak pernah berhenti membuat kejutan untuk hamba-hambaNya? Kau harus percaya karena dengan begitu kau akan mengalami banyak keajaiban atas sesuatu yang kau rasa mustahil. untuk hal ini aku ingin bercerita padamu tentang hari ini. Dengarkanlah..

Hari ini hari selasa, kau pun tahu. tapi yang kau tak tahu hari ini aku sangat bahagia!! Baru saja rumahku digerebek bu lurah membawa bocah-bocah cilik yang imut-imut. Nah lho, digerebek bu lurah kok bahagia???

Tunggu dulu saudara-saudara, yang ini bukan sembarang bu lurah. Tapi Bu Lurah AGH 47, departemen yang kugeluti saat berada di Institut Pertanian Bogor. Aku benar-benar tak menyangka Bu Lurah bersedia mampir ke rumah sederhanaku, dan kebahagiaanku bertambah ketika melihat bocah-bocah cilik yang dibawa bu Lurah, ah betapa aku merindukan kalian semua!!

Yap, baru saja Liezda, bu Lurah AGH dan geng bocil (Atika, Wida, Zamroh, Takbir) menjengukku. huaaa,, senangnyaaaa,,, serasa ingin melompat-lompat, jungkir balik saking senengnya! Aku sangat merindukan AGH, meskipun tak lama aku menjadi bagian dari keluarga AGH 47, tapi mereka sudah berada dalam hatiku dan tak pernah terlupa..(walau lebay, ini nyata lho!)

Dan ini adalah kejutan Allah untukku, sebuah kejutan yang sangat indah di hari Selasa yang penuh barakah. orang-orang sibuk macam mereka menyempatkan mampir ke rumahku?? Wahh,, itu sangat-sangat spesial untukku. Terimakasih atas kunjungan kalian, sahabat-sahabatku.. :) Buat teman yang lain, kalau sempat mampir jugalah ke rumah sederhanaku ini... ;)

aku jadi merindu pada suatu masa,,
saat masih menjadi bagian dari civitas akademika IPB..
Ahh,, banyak tawa dan tangis yang tercipta..
tak ada yang seperti kalian,
AGH 47...



Senin, 28 Januari 2013

Cinta Muhammad untuk Yesus

Buka-buka file,, ini cerpenku zaman lawas.. haha
silahkan menikmati.. :D



Aku sudah pernah mendengar cerita tentang Romeo and Juliete sedari dulu. Bahkan karena kegemaranku membaca, Laila Majnun hingga Taj Mahal sudah kulahap habis. Cinta, katanya mampu membuat orang gila, rela melakukan apapun deminya. Aku tidak percaya sama sekali. Atas dasar apa seorang meninggalkan keluarganya hanya demi orang yang baru datang dalam hidupnya?  Namun, aku termakan ucapanku sendiri, seperti hewan yang memakan kotorannya sendiri.
Aku jatuh cinta. Dalam kesendirian, aku memikirkannya. Bahkan saat ramai pun aku masih mengingatnya. Ah, cinta, mengapa kau menyiksaku dalam permainanmu?
“Biarkan aku menyentuhmu sekali saja. Aku berjanji akan menikahimu.” Ujar lelaki itu. Dia yang hadir mengisi relung hatiku. Aku takut. Tak kah kau lihat jilbab lebarku? Aku tak pernah sekalipun menyentuh lelaki yang bukan muhrim, tapi saat ini aku begitu bingung. Aku takut kehilangan cintanya. Tapi bukankah ini dosa? Ah, cinta..
Aku mengangguk, dan ia memegang tanganku. Aku tersenyum, tapi hatiku menangis. Saat ingin kulepas tanganku, ia mengecupnya! Aku tak kuasa menolaknya. Tersenyum sesaat, lalu pergi..
Percayakah kau bila kukatakan bahwa yang barusan berbuat nista itu aktivis dakwah? Kau harus percaya, karena aku pun teman seperjuangannya, dalam dakwah kampus kami.
“Kak, apakah ini bukan dosa?” tanyaku saat ia memintaku untuk pacaran, namun ia samarkan istilahnya menjadi taaruf.
“Semoga tidak, karena niat kita untuk beribadah, de. Pada akhirnya insya Allah kita akan menikah, percayalah pada kakak. “ Senyum dan ketegasannya membuatku mempercayakan hatiku padanya.
Aku memang sudah lama menyimpan benih cinta ini padanya semenjak aku melihat sepak tejangnya di dakwah kampus. Ia tak pernah mengenal lelah, bahkan saat orang lain istirahat, ia terlihat tetap sibuk. Ia rela mengorbankan waktu dan biaya demi dakwah yang dicintainya. Padahal, kudengar ia adalah mualaf, lahir dari keluarga nasrani yang taat. Sudah sebulan lalu ia menyandang status muslim, dan semenjak itu Jonathan tidak pernah terdengar lagi di kampus, karena namanya telah diganti menjadi nama yang begitu mulia: Muhammad.
Pernah kutanyakan mengapa ia begitu bersemangat untuk memperjuangkan dakwah kampus , padahal ia baru saja masuk Islam.
“Karena aku ingin mereka merasakan indahnya islam seperti yang kurasakan. “ Tegasnya. Ah, betapa ia sempurna di mataku!
Dan kini, sudah enam bulan kami pacaran. Tentu sembunyi-sembunyi, gawat kalau sampai teman-teman tahu apa yang kami lakukan. Banyak yang telah kami lewati bersama. Saat libur semester, aku pura-pura pulang ke kampung halaman, padahal jalan-jalan bersama Muhammad. Berkeliling di sekitar kebun raya, dan saling memandang penuh cinta. Kalau dia sedang luang, sering ia meneleponku berjam-jam, dan aku harus memastikan kamarku terkunci rapat, agar keluargaku tidak mendengar percakapanku denganya. Ah, betapa bahagianya kami... aku ingin segera dipinang olehnya, agar kami tak perlu lagi bersembunyi seperti ini.
“Kak, kapan kita menikah?” tanyaku saat kami tengah berduaan di rumahku. Kebetulan keluargaku sedang pergi menengok kakek yang sakit.
“Adek maunya kapan?” Tanyanya setengah bercanda.
“Adek ingin secepatnya, Kak. Adek gak mau sembunyi-sembunyi terus kayak gini” Aku menghela napas dalam-dalam sambil menunduk.
“Dek..” ujarnya lembut. “Coba liat kakak” aku menatap matanya yang indah. Ia memegang tangaku kemudian mengatupkan di dadanya.
“Adek sayang sama kakak?” tanyanya. Aku mengangguk pasti.  “Kakak pasti menikahi adek. Percaya kan sama kakak?” lagi-lagi kata ini yang ia ucapkan setiap kali kuminta ia mengkhitbahku.
“Adek percaya kak. Tapi kapan kakak akan menikahi adek?” aku sudah benar-benar tak kuat. Apalagi kemarin hubungan kami sempat tercium lembaga dakwah kampus kami. Untung saja tidak ada bukti yang bisa menyatakan kami pacaran, sehingga kami terbebas. Belakangan ini, aku juga merasa munafik. Sebab aku juga mengajari adikku tentang Islam dan dengan tegas melarangnya pacaran. Ah, padahal aku sendiri berpacaran!
Muhammad memandangku dalam-dalam. Aku melihatnya. Wajahnya cukup tampan, meskipun matanya sipit seperti keluarga tionghoanya, tapi hidung mancung dan bibir tipisnya cukup untuk melukis wajahnya menjadi sedemikian indah. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku mencintainya, seperti cinta Qais yang membuatnya majnun, seperti itulah aku saat ini.
“Kakak akan melamarmu malam ini, apakah kau bersedia?” Muhammad berkata mantap.
“Benarkah? Kakak tidak bohong kan?”  ia mengangguk, hatiku berbunga-bunga.
“Dimana orangtuamu? Biar kita saja yang menghampiri mereka. Semoga mereka mau menerimaku sebagai menantunya.”
Aku senang sekali. Ternyata janji Muhammad bukanlah janji palsu seperti yang kukhawatirkan. Tak sadar, aku memeluknya erat.
Malamnya, kami pergi ke rumah kakek. Dan tak disangka-sangka, orangtuaku menerimanya dengan baik, bahkan kakekku juga turut bahagia menyambutnya. Keluargaku tak peduli masa lalu Muhammad, mereka sangat tersanjung dengan cerita Muhammad dan aktivitas dakwahnya di kampus. Mereka meminta kami bersegera menikah. Meskipun kakak baru saja menyelesaikan studinya, tapi ia sudah punya pekerjaan di perusahaan asing Jakarta. Ia memang pintar dan tekun, belum saja lulus sudah banyak perusahaan yang memintanya bergabung. Maka dari itu, orangtuaku meminta kami segera melangsungkan pernikahan, karena tak ada yang perlu kami khawatirkan lagi.
Bulan selanjutnya, kami sudah menjadi suami-istri. Dan aku merasa jadi orang yang paling bahagia sedunia! Bayangkan, suamiku tak pernah bosan untuk membawakan sekuntum mawar bersama ucapan sayang setiap kali pulang kerja. Ia bahkan selalu menyanjungku dimanapun kami berada. Dan meskipun aku tak terlalu pandai masak, ia selalu mengatakan bahwa masakanku adalah masakan terlezat sedunia! Sungguh, aku tak pernah menyesal menikahinya.
Sebulan berlalu, dan kandunganku menyempurnakan segalanya. Ya, aku hamil! Suamiku makin menjadi sayangnya. Ia tak pernah membiarkanku letih. Ia tak pernah absen menemaniku cek kehamilan tiap bulan, bahkan pada waktu aku merasa kelahiran anak kami sudah tiba, ia rela membatalkan seluruh perjanjian dan cuti kerja!
“Abi gak kerja?” tanyaku pada Muhammad yang kupanggil Abi semenjak kami menikah.
“sssttt!” ia menutup mulutku. “Kau lebih penting.” Mengerjap centil padaku. Dan aku tersenyum bahagia. “Aku tak sabar melihat anak kita, Umi..” ujarnya.
Sempurnalah hidup kami. Dan waktu pun berlalu. Anak kami sudah berusia satu tahun saat tiba-tiba kupergoki suamiku tengah berdo’a. Tak masalah dengan do’anya, tapi kau lihat dia? Berdo’a dengan cara nasrani?!
“A... Abbii..” tegurku, ia melirikku. “Apa yang Abi lakukan?”
“Dengarkan Aku, Rena.” Baru kali ini aku mendengarnya memanggil namaku langsung semenjak pernikahan kami. “Semalam aku bermimpi bertemu Tuhan Yesus.” Aku tersentak! Yesus??? “Setelah bertahun-tahun Dia meninggalkanku, dia datang kembali. Ia mengingnkan aku untuk kembali pada jalanNya.” Ia berkata tanpa beban.
“Abi, jangan bertindak bodoh! Ini bukan dirimu!!” aku menangis. Mengapa ia tiba-tiba ingin kembali ke agamanya?
“Ini adalah jalan yang benar, Rena. Ikutlah bersamaku.” Ia agak keras.
“Tapi...”
“Kalau kau tidak mau ikut, biarkan Rizki bersamaku.” Dia meginginkan anak kami untuk menjalankan agama bersamanya?
“Abi..” Aku menangis lebih keras.
“Ikutlah bersamaku ke Riau. Percayalah padaku, seperti sebelumnya kau percaya padaku. Aku ingin kita berkumpul sebagai keluarga lagi di syurga Tuhan.”
......
Satu bunga syurga telah gugur.

Kamilatussyafiqoh

Rabu, 23 Januari 2013

Jangan Khawatir, Saudaraku..


Jangan khawatir saudaraku

jika mereka terlalu memuja Rasulnya

bukankah dahulu para sahabat begitu memuja Rasul...

berdesak-desak, terlihat hampir seperti berbunuh-bunuhan

hanya demi sehelai rambutnya ..


Jangan khawatir Saudaraku …

Dekatilah  orang terbodoh dari mereka Dan tanyalah… “Siapa Muhammad ?”

Kau akan dapatkan jawaban, dibalik wajah lugunya yang heran dengan tanyamu

“Dia adalah utusan Allah”

tanyalah sekali lagi…lagi… dan lagi… tanyakan pada semua pemuja,

dan sia-sia kau menanti jawaban “Dia adalah anak tuhan” atau “dia Adalah tuhan”..

sungguh si pemuja akan marah jika kau katakan begitu…


Jangan khawatir Saudaraku …

jika mereka terlalu memuja Rasulnya

Tapi takutlah jika mereka berhenti memuja .

Dan mulai membasahi mulutnya dengan nama-nama ulama, pemain bola, artis, penyanyi

Tetapi lupa memuja rasul-Nya..

dan lebih takutlah ketika mereka mulai benci ketika mendengar Nama Rasul diagungkan....


Jangan khawatir Saudaraku …

jika di hari lahirnya Rasul kita dipuji..

tapi takutlah ketika kau tidak mendengar satu untai sajakpun untuk memuja Rasul di hari itu...

sedang di hari lahir mereka sendiri...,

sedang di hari lahir sahabat-sahabat mereka...

sedang di hari-hari lahir kekasih mereka….

Mereka bersyukur karena dilahirkan di dunia

Dan tak lupa berkata

 "selamat hari milad saudara..."


Dan lebih takutlah jika di hari itu,

mereka mulai  tak sudi sedikit saja mendengar

"salam bagimu wahai makhluk terindah ciptaan Allah "

yah hanya sedikit saja....