Welcome!!

Bismillahirrahmanirrahiim....

Senin, 22 Juni 2026

Si Santai Tapi Pasti

Kau datang penuh juang

khawatirku saat menyambutmu

lalu senyummu menenangkanku...


anakku nomor dua penuh kejutan. saat lahir saja penuh perjuangan, sampai-sampai hampir saja aku akan dirujuk ke rumah sakit. 

Ia pemalu, bahkan saat lahir pun tak mau ditemani ayahnya. Ya, ia keluar menuju dunia saat ayahnya sedang berjuang mencari nafkah di seberang sana, seolah berkata, "Jangan khawatir, Abuya, Aku akan keluar tanpa merepotkanmu."

Ia warna baru dalam hidupku,

jauh berbeda dari nomor satu yang selalu bercerita,

ia lebih suka menyimpannya dalam pikir dan rasa,

tak suka memantik perselisihan, ia rela berkorban,

bahkan karena tak suka keramaian,

ia lebih senang duduk rapi di kediaman,

tak juga suka diburu waktu,

ia kerjakan dengan santai tapi pasti...


dialah wajah kedua yang Allah titipkan padaku,

semoga aku mampu menggandengmu selalu

hingga kelak kita kembali berkumpul

bersama kekasih agung kita di surga kelak,


tetaplah menjadi wajah yang membuatku tenang, ya nak...

Kamis, 14 Mei 2026

Si Paling Sempurna

 Dia menyapaku paling awal

Saat Aku masih sedikit sekali berbekal

Aku menyambutnya penuh harap

Namun ia menerimaku tanpa syarat...


Dia anakku yang pertama, datang saat aku belum pernah mengurus bayi mungil yang suci dan rentan itu. Aku menunggunya datang, meski dengan segala keterbatasanku. Untungnya, saat itu ada ibuku yang luar biasa. Jadi aku belajar banyak dari beliau yang memiliki 12 anak untuk mengurus anak. Dan.....

JENG! JENG!

Anak yang mungil lucu  dan tak mampu melakukan apapun selain menangis itu kini sudah menginjak usia 9 tahun! Sungguh luar biasa takdir Allah dan sungguh hebat jalan cerita yang Allah siapkan untuk anakku ini.

di umurnya yang menginjak 2 tahun, ia memiliki adik

tahun berikutnya, adik lagi

tahun berikutnya, adik lagi..

tahun berikutnya adik lagi...

hingga kini adiknya akan mencapai angka 6 insya Allah!

dan kau tahu apa doanya setiap hari?

"Semoga Umma hamil lagi". katanya inilah doa yang selalu ia panjatkan di samping doa-doa luar biasa lainnya. sungguh mengherankan bukan??!

Anakku yang satu ini hatinya lembut sekali. Jika nada biacaraku agak tinggi ia akan langsung menangis dan menganggapku tak menyayanginya lagi. Bahkan walaupun ia mengaku ingin memiliki adik banyak, namun setiap kali aku memeluk dan mencium bayi, ia juga ingin diperlakukan seperti itu. Ya, ia cemburu pada hasil doanya itu! 

hati-hati jika kau memberi nasihat padanya karena ia akan mengingatnya dan menuntutmu untuk melakukannya juga. Ia tak suka barangnya disentuh orang lain atau digeser dari tempatnya. Ia rapih dan teratur, beda sekali denganku. Hahaha...

Ia pekerja keras dan suka jika tujuannya tercapai. Jika sudah menentukan target akan ia kejar sampai dapat. yah, dialah Si Paling Sempurna...


Walaupun aku bukan ibu yang sempurna,

tapi akan ku doakan kau dengan sempurna, Nak...


anakku yang lain? oke, tunggu aja ceritanya ya.. ;)



Selasa, 28 April 2026

Jamuan Pahit

kawan,

dimana aku harus memulai

sedangkan setiap huruf memasang wajah masam

kadang bahkan bersembunyi 

sulit kutemui


kawan,

setiap kata tertuang aku takut

apakah harus kuakhiri dengan tragis

atau kutinggal tanpa perlu kusudahi?


kawan, 

kepadamu saja aku jujur

bahwa selama ini aku hanyalah pendusta

mengaku bersahabat dengan mereka padahal tidak

bangga saat ceritaku dipuja padahal tak bernilai


kawan, 

apakah kau menikmati jamuanku?

walaupun pahit?

atau bahkan beracun?


bagaimana aku harus membalasmu

sedang aku tak memiliki sesuatu?


kawan,

setidaknya bicaralah!

atau mengangguk tanda mendengar

kenapa kau diam?


kawan,

apakah kau bosan?


key,

280426

Sabtu, 25 April 2026

ketika mimpi seperti mimpi

 apakah aku boleh bermimpi lagi?

padahal telah terbit mentari

bulan pun sudah tak ingin menemani


gejolak dalam diri tak kurasai

bahkan sudah tak nikmat kopi pagi hari

nampaknya aku hampir mati?


jadi, bolehkah aku merangkai kembali?

kata-kata yang dahulu bagai kobaran api

melahap setiap keraguan dan sanksi hati

bahkan mampu menembus angkasa tak bertepi


kawan, kutanya kau sekali lagi

kau lihat rambutku mulai terwarnai

perutku kembang kempis berkali-kali

bahkan sepeda sudah tak mau kuajak berlari

apakah aku boleh bermimpi lagi?


sabtu,25 April 2026


Sabtu, 11 April 2026

2026, tahun siapa?

Ini adalah jejak awal
meskipun telah banyak tanah yang terinjak
sebab telah banyak mata terpejam
bahkan tawa lebih menggema dibanding kata

tak terasa,
2026 sudah hampir pertengahan
tapi aku merasa mundur?
bahkan untuk sekedar memeluk frasa pun kaku,
lihat huruf-huruf itu berantakan tanpa aturan

puluhan tahun bersama,
rasanya ilmuku malah berkurang
amalku menyempit,
akhlakku merosot
duhai, masih pantaskah aku mengadu?


tahun ini,
akan ada nafas baru
yang lahir dari nafas tersengal 
yang entah kenapa, aku merasa kasihan

aku harus kembali,
sebelum menyesal menghampiri
akan kurayu kata agar kembali manis,
akan kurengkuh asa agar citaku tak habis

meski harus membuatmu kelelahan,
kuharap kau sabar seperti dulu, kawan!

2026, jadikan ini tahun kita
menyambut setiap nafas yang tergantung
ayo, jadikan ia irama yang padu lagi!


key
11042026,

Kamis, 10 Juli 2025

Menyerah

Kurasa sudah waktunya aku menyerah

Menunjuk takdir sebagai tersalah

Berlabel pengecut biarlah

Ini kan artinya pasrah?


Sudah waktunya aku menyerah

Biarkan saja luka dan nanah

Tersebab salah melangkah 

Toh sudah parah?


Waktunya aku menyerah

Uban pun sudah bertambah

Ingatan pun payah

Aku kan lemah?


Aku menyerah

Tapi kenapa kau marah

Lalu mengangkat kerah

Apa aku tak boleh lelah?


Menyerah

Sebab mimpi hanya untuk peziarah

Yang punya tujuan terarah

Aku kan sampah?


Kamis, 03 Juli 2025

TUMBAL


Lautku sayang,
Jangan menangis
Katanya tusukan bambu di kakimu disetujui penguasa,
Menggorok leher nelayan demi mencipta gempita,
Bukankah itu karya anak bangsa?

Lautku sayang,
Tak payah marah
Meski terlambat,
Bukankah mereka berduyun padamu bersimpati,
Bahkan si nomor satu berkoar melindungi
Ah, atau melindungi diri dari caci?

Lautku sayang,
Tak usah kesal
Mereka sudah siapkan tumbal
Sepotong kepala jabatan rendah,
Apakah cukup?

Cirebon, 29 Februari 2025

Kamis, 20 Maret 2025

Ramadhan Bercerita

Kemarin Ramadhan bercerita,

Malam-malam kau sibuk bercanda dengan bulan

Sahur terlupakan, 

Hidangan surga terabaikan..


Kemarin Ramadhan bercerita,

Hari-hari kau dan ponsel terus dalam gurauan,

Lupa bertegur sapa dengan Tuhan,

Sekedar gerakan rutin sebagai tuntutan, 

Itupun di akhir waktu, sekejap bak kilatan


Kemarin Ramadhan bercerita,

Menangis sebab panggilannya tak kau gubris

Kecewa sebab pelukannya kau tangkis

Marah sebab cintanya kau buat amis


Kemarin Ramadhan bercerita,

Meski di sisa umur yang tak seberapa

Ia menunggu kau sapa

Dengan hati tanpa cela

Bukan sekedar bualan belaka


Kemarin Ramadhan bercerita,

Apakah kau tak dengar?

Apakah kau tak lihat?

Apakah kau tak rasa?


Atau memang,

Kau sudah mati?


Cirebon,20 Ramadhan 1446H

@albinyahya


Selasa, 04 Maret 2025

Nasihat Ulama

Bismillahirrahmanirrahim

Saya tak lagi berani mengatakan nasihat-nasihat sebab sepatutnya saya lah yang diberi nasihat. Maka kali ini saya akan sampaikan nasihat daripada ulama saja. Semoga saya khususnya dan yang membaca umumnya mendapatkan manfaat. Aamiin.

Saya mulai dengan perkataan seorang ulama yang matanya buta, tapi hatinya dapat melihat dengan jelas, al Habib al Imam Abdullah bin Alwi AL hadad.

Wahai saudaraku tercinta!
Hendaknya kamu menguatkan keyakinanmu dan memperbaikinya. Karena yakin jika kokoh di dalam hati dan menguasainya, maka seakan-akan hal yang awalnya tak nampak mejadi nampak. Dan ketika orang yang memiliki keyakinan seperti ini akan mengatakan seperti perkataan Ali karomallahu wajhahu:

"Meskipun dibuka hal yang tertutup, tak akan menambah keyakinanku"

Kala Ramadhan Menerka

 Kala Ramadhan Menerka 


Kau kah itu?

Yang datang dengan jubah terindah,

Kau hitung tiap langkah,

Tak sabar bertemu aku,

Mempersembahkan hadiah yang kau rapihkan tiap waktu..


Kau kah itu? 

Yang hanya menunggu,

Aku yang datang karena waktu,

Kau suguhkan sajian nikmat untuk datangku,

Namun, lalu kau bosan dan kembali lupakan aku,

Hanya karena aku ada, kau terpaksa menyapa,

Hingga aku pergi, kau mengusirku penuh tawa

Kau bahkan memakai pakaian terbaik,

Untuk kematianku..


Kau kah itu?

Yang merengut saat kupijakan rumput halamanmu,

Katamu, kau jadi tak jujur karenaku

Kau pura-pura rindu,

Tapi bahkan namaku pun kau tak tahu

Kau buat semesta memujimu karena cintamu padaku,

Tapi aku hanya merasakan pahitmu..


Kau kah itu?

Yang sama sekali tak peduli

Ada tiadaku,

Kau tetap sama,

Hanya berbeda jam kerja saja,

Pula jam tidur karena bekerja lembur


Kau kah itu?

Yang bahkan tak tahu aku ada

Lalu berkata,


Kau kok sudah datang lagi?

Rasanya baru kemarin kau kemari..



Kau kah itu?

Kau

Kau 

Yang mana?


Cirebon, 25 Februari 2025

@albinyahya

Selasa, 18 Februari 2025

Pesan untuk Wanita dan Pria

 Pesan untuk Wanita


Jangan kau bangun dinding yang terlampau tinggi,

hingga angin pun enggan menyapa pintumu.

Independensi itu indah, tapi jangan kau jadikan belati,

menusuk setiap hati yang ingin mendekatimu.


Standarmu menjulang seperti puncak menara,

tapi ingatlah, tak semua pria bersayap untuk terbang ke sana.

Bahkan yang kau sebut sempurna, yang kau damba dalam doa,

tak ingin mendaki jika kau hanya melihatnya dari atas sana.


Dan waktu pun berbisik perlahan,

usia bergulir, lembut tapi pasti.

Saat kau lelah berdiri sendiri, kau turunkan mahkotamu,

tapi adakah yang masih menunggu?




---Reply ---

Pesan untuk Pria


Sebenarnya dinding itu tak perlu kau pandangi,

Kau hanya perlu mencari pintunya saja,

Lalu buatlah kunci..


Hanya saja jangan kau tertipu rupa sang pintu..

Atau menyerah dan membuka pintu apapun yang termudah..

Bahkan mendobrak paksa hingga pemilik pintu menerimamu dengan ngeri..


Kau perlu tahu, wahai yang disebut pria muka bumi,

Kau perlu tahu dengan apa di balik pintu itu terisi


Apakah isinya hanya sampah yang akhirnya kau merugi,

Atau perabotan mahal yang membuatmu rendah diri,

Atau mungkin ternyata isinya dijual bebas saat kau pergi.


Kau harus tahu itu,

Sebab selalu hanya ada satu pintu,

Yang isinya membuatmu bahagia sepanjang waktu..

Memandangnya saja membuat senyummu tak bisa berhenti terbentuk,

Dan sang pemilik menjaganya meski kau tengah mengembara jauh..


Pintu itu,

Yang arsiteknya merencanakan sepenuh hati,

Interior di balik pintu itu hanya khusus untuk pembuka kunci,

Dan perabotannya akan selalu membuatmu bangga diri.


Kunci pintu itu tak pernah sulit hingga harus kau cari di gunung tertinggi,

Tidak pula harus samudera kau sebrangi,

Bahkan dinding tinggi itu tak perlu kau daki,


Kau hanya perlu membuat kuncinya,

Sama persis seperti aslinya,

Dia dibuat dari Kalam Ilahi tanpa cela..


---BukanOrangSempurna


---Reply ---

Pesan untuk Wanita (Lagi)


Pintu, katamu, cukup dicari kuncinya,

tapi bagaimana jika pemiliknya tak ingin membukanya?

Haruskah pria terus mengetuk,

sampai tangan letih dan harapan mengelupas?


Tidak semua pria memaksa masuk,

tidak semua pria menyerah begitu saja.

Ada yang datang membawa kunci,

namun pintu itu terlalu sibuk memilih,

menakar siapa yang pantas diberi izin.


Dan ketika akhirnya pintu mulai terbuka,

karena waktu berbisik bahwa kesendirian tak selamanya indah,

apakah pria yang datang pertama masih menunggu?

Ataukah ia telah pergi,

menemukan pintu lain yang tak ragu menyambutnya?


Bukan tentang siapa yang terbaik,

bukan pula tentang siapa yang lebih selektif,

tapi tentang kesiapan membuka hati,

tanpa menunggu usia memaksamu melunak.


Karena tak semua pria mencari pintu termudah,

tak semua pria takut pada perabotan mahal,

dan tak semua pria ingin masuk ke rumah yang terbuka untuk siapa saja.


Pria sejati tak hanya membawa kunci,

tapi juga hati yang siap menjaga.

Dan wanita sejati,

akan tahu kapan harus berhenti menakar,

dan mulai menerima yang benar-benar pantas.


— Ali Robiansyah


---Reply ---

Pesan untuk Pria (lagi)


Makannya, ku katakan padamu,

Hanya ada satu pintu yang layak kau tuju..


Ketika pemilik pintu mengacuhkanmu,

Padahal kau susah payah membuat kunci,

Itu bukan pintu yang layak bagimu,

Mengapa harus kau tunggu?


Aku hanya berpesan,

Untukmu yang mengaku pria sejati,

Karena terkadang kau tak bersiap,

Tergesa memilih pintu tanpa kunci, 

Yang siapapun boleh masuk tanpa permisi


Atau karena terbuai dengan indahnya cat pintu warna warni, 

Hingga isinya kau tak peduli


Bahkan mereka yang bergelar pria itu,

Terkadang bersusah payah membuat kunci, 

Dan ia benar memilih pintu terbaik,

Namun setelahnya ia tak peduli.

Hanya duduk santai minta dilayani..


Kuharap kau bukan mereka..


Jika kau benar pria sejati,

Tentu takdir tak akan sudi

Kau di samping pemilik pintu yang tak ber-hati..


Jika kau benar pria sejati,

Tentu tak akan pernah rela,

Pemilik pintu harus menderita atas nama cinta,


Jika benar,

Ya, jika benar kau pria sejati,

Sungguh beruntung pintu yang kau buka dengan hati!


---BukanOrangSempurna


---Reply ---

Pesan untuk Wanita (Terakhir?)


Aku tak pernah memaksa pintu untuk terbuka,

sebab aku tahu, ada yang tak layak kuketuk lebih lama.

Pintu yang tak menoleh pada kunci yang kubuat dengan doa,

adalah pertanda, ia bukan tempatku berlabuh.


Namun, tahukah kau?

Tak semua pria ingin sekadar duduk dan dilayani,

sebagian datang membawa pondasi,

membangun, bukan sekadar menempati.


Dan jika pria terkadang memilih pintu yang salah,

bukankah wanita pun seringkali keliru?

Memasang harga terlalu tinggi,

atau menjual diri tanpa harga sama sekali.


Aku setuju, pria sejati tak akan membuat pemilik pintu tersiksa,

tapi wanita sejati pun tak akan membiarkan pintunya terbuka untuk siapa saja.


Jika aku pria sejati, maka kau pun harus jadi wanita sejati.

Bukan yang menunggu hingga waktu memudarkan seleksi,

tapi yang tahu kapan harus memilih,

tanpa perlu menunggu usia menuntut kompromi.


Sebab dalam dunia ini,

pintu dan kunci tak hanya tentang saling mencari,

tapi tentang kesadaran kapan harus membuka,

dan kapan harus berhenti menolak.


— Ali Robiansyah


---Reply ---

Pesan untuk Pria (Terakhir juga?)


Ya, aku mengerti,

Kepada siapa kau rangkai puisi,

Namun agar tak timpang neraca ini,

Ku suarakan pula suara hati wanita sejati..


Kami selalu menutup rapat pintu kami,

Bukan jual mahal,

Namun demi menepati janji dengan Tuhan,

Sebab hanya yang mampu membuka pintu kami saja yang boleh bersentuhan.


Kami bukan pemilik pintu itu,

Yang menyiakan mereka yang membawa kunci sesuai aturan.


Jadi pesan ini berlaku untuk mereka..

Pria yang memilih pintu terbuka 

Agar bisa keluar masuk sesukanya,


Pesan ini untuk mereka,

Yang hanya berusaha memilih pintu terbaik untuknya,

Bukan untuk generasi setelahnya..


Pesan ini untuk mereka,

Pria tanpa selera,

Yang menyiakan mutiara di depan mata..


Ya, bukan untukmu..

Pria sejati yang seharusnya pemilik pintu terbaik..


Semoga,

Itu tidak hanya satu..


---BukanOrangSempurna


---Reply ---

Pesan untuk Wanita (Benar-benar Terakhir?)


Aku mengerti suaramu,

tentang pintu yang dijaga dengan janji,

tentang kunci yang hanya dibuat dari keikhlasan sejati.

Dan aku setuju, bukan harga yang dipasang tinggi,

tetapi kehormatan yang tak bisa dibeli.


Namun, izinkan aku berbicara pula,

bukan untuk menangkis,

bukan untuk membantah,

tapi untuk menyeimbangkan neraca kita.


Kami pun tak mencari pintu terbuka,

sebab yang terlalu mudah dimasuki,

seringkali tak layak ditempati.

Kami pun tak hanya mencari yang terbaik untuk hari ini,

tapi juga rumah bagi generasi nanti.


Bukan hanya pria yang harus bijak memilih,

wanita pun harus tahu kapan berhenti menimbang,

sebelum waktu mengikis pilihan.


Karena yang sejati, baik pria maupun wanita,

bukan yang hanya menunggu pintu terbaik terbuka,

tapi yang berani membuka dengan hati,

untuk seseorang yang benar-benar siap tinggal selamanya.


Maka semoga,

baik pria maupun wanita,

tak lagi saling beradu kata,

tapi mulai saling menjaga,

agar tak hanya satu yang sejati,

tapi dua, yang bersama selamanya.


— Ali Robiansyah


---Reply ---

Aku hanya ingin menjawab,

Sambil menatap langit yang mulai sembab,

Sebab dunia semakin gelap,


Kujawab di malam terkabul do'a,

Lima belas hari menuju bulan mulia,

Ketika Tuhan menetapkan takdir kita,


Semua semoga terbaik yang tertulis,

Ataupun yang terbesit dalam lintasan hati,


Semoga Tuhan kabulkan,

Sehingga lahir generasi sejati, dari dua yang sejati


Di malam nisyfu syaban yang mulia,

---BukanOrangSempurna







Terimakasih, Kawan!

 Aku mengenalmu lewat untaian kata,

Yang melesat tak kenal jeda,

Bagai tembakan zionis di Palestina.


Semalam kutinggal tidur,

Kau dan Dahliya tengah mendengkur

Ditemani para penikmat hujan yang akur


Kubuka mata perlahan,

Pujangga cinta sudah meluapkan perasaan

Yang jatuh,

Yang dibuai,

Pula ditinggal tanpa pesan.


Kawan, aku tenggelam lagi

Dalam lautan diksi

Yang lama tak ku selami


Kawan, bara api itu perlahan terbakar

Dengan pemantik yang kau sebar

Dari kombinasi 26 huruf yang liar


Ah, betapa menyenangkan!

Meski tak tahu apapun tentangmu, 

Membacamu membuatku tak segan,

Menyebutmu KAWAN


Terimakasih, Kawan!


---by: bukan orang sempurna

-----

for: semua yang menulis disini

Mencabut akar

 Sekarang aku baru tahu

Bahayanya menanam benih tanpa sadar

Apalagi kupilih pupuk terbaik 

Lalu kuperhatikan tiap saat

Kupikir buahnya aku yang nikmati

Kupikir teduhnya aku yang rasakan

Ternyata benih itu ada pemiliknya

Ia ambil tergesa

Tanpa ia tahu

Bahwa tanah yang kupakai menanam

Bukan tanah di halaman

Tapi tanah dari hatiku

Akarnya menancap ke dalamnya

Hingga saat ia ambil

Hatiku robek

Rasanya sungguh perih

Hingga aku berteriak pada sang hati

Kuatlah! Mengapa tidak kau pastikan

Benih itu sudah diberikan

Bukan sekedar titipan


Mengapa kau biarkan

Membagi perasaan

Pada suatu pinjaman


Bukan sang pemilik yang kejam

Tapi kau,

Kau yang keterlaluan

Tanaman kecil tumbuh kau biarkan

Dedaunan mulai riuh kau malah nyaman

Maka saat buah mulai terlihat perlahan,

Dan akar mulai kuat tertanam

Kau pikir dia pohon impian

Ternyata jauh dari kenyataan

Dia hanya titipan 

Sabtu, 08 Februari 2025

Pesantren (bagian 3)

Seorang pria gemuk masuk ke kelas kami. Kacamata tebalnya membuktikan bahwa ia adalah kutu buku, atau kutu handphone ya? Intinya, matanya sering diajak bekerja keras sehingga membuatnya tak mampu melihat dengan jelas tanpa bantuan kacamata.

"Bismillahirrahmanirrahim..." Ketua kelas Shifir memimpin do'a belajar untuk menyambut kedatangan guru yang sangat mereka segani itu. Guru matematika.

"Allahumma shali ala Muhammad miftahi baabi rohmatillah adada ma fii ilmillah shalatan wa salaman daimaini bidawami mulkillah wa ala Alihi wa shohbihi ajmain." Serentak seluruh santri membaca do'a awal belajar itu. Aku terdiam saja sebab do'a itu sangat asing bagi telingaku. 

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Guru matematika itu memberi salam dengan suara yang penuh wibawa. Berbeda jauh dari perawakannya, suaranya membuat siapapun yang mendengarnya menaruh segan padanya.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Serentak santri menjawab. Termasuk aku. Yah, sekedar jawab salam semua orang juga bisa kan.

"Sepertinya ustadz baru melihat antum, yang di sebelah Salman, siapa namamu?" Ustadz itu melihat ke arahku. Aku menunjuk diri, ustadz itu mengangguk sebagai jawaban bahwa ia memang sedang bertanya padaku.

"Arfi." Jawabku singkat. Malas benar berada di kelas ini. 

"Sepertinya antum paling muda disini. Tapi kenapa ustadz merasa ada kesan sombong dari ucapanmu." Ustadz itu terus berbicara denganku. Rasanya aku ingin segera menyelesaikan kelas ini dan memulai rencana balas dendamku. Aku hanya tersenyum seadanya saja atas ucapan ustadz.

"Ustadz ingin tahu kamu ada di level mana untuk matematika di pesantren ini." Ustadz meneruskan ucapannya. Aku tak begitu menanggapinya. Meskipun aku seorang sarjana pertanian, tapi kalau matematika aku ahlinya. Di jurusanku saja aku selalu mendapat peringkat teratas untuk matematika. Di pesantren tak beda jauh, bukan? Aljabar? Algoritma? Yah, aku boleh sombong lah kalau untuk ini.

"Hei, Arfi!" Ustadz itu membentak sehingga lamunanku buyar. "Berani sekali antum tidak menjawab ustadz ya."

"Yang mana yang harus dijawab ustadz?" Jawabku ketus.

"Paling tidak, matamu jangan melihat ke arah lain saat orang berbicara. Apakah antum tidak belajar akhlak?" Ustadz itu membuatku semakin tak betah di kelas. Semua santri sekelilingku terdiam, tak ada yang berani menatap ke arahku atau ustadz. Semua menunduk ketakutan. Sepertinya ustadz ini memang punya tempramen yang buruk. Dia sok pintar sekali mentang-mentang guru. Apakah guru disini semua seperti ini? Hah, pantas saja..

"Arfi! Lagi-lagi kamu melihat ke arah lain! Hobimu melamun ya?" Ustadz itu terus mengomel.

"Ustadz, saya harus menjawab apa. Berikan saja soalnya." Ucapku

Selasa, 02 April 2024

Pesantren (bagian 2)

"Banin, perkenalkan ini santri baru di kelas Shifir. Silahkan ya Akhi perkenalkan dirimu." Ustadz yang tadi memanduku itu melirik ke arahku. Aku paham bahwa aku diminta untuk perkenalan, tapi sok tahu benar ustadz ini.

Aku tersenyum sinis pada ustadz, "Terima kasih ustadz, tapi maaf nama saya Arfi, bukan Akhi." Sengaja kukeraskan suaraku agar semua santri kelas ini tahu, Ustadz yang mereka hormati itu tidak punya adab sama sekali. Memanggil orang bukan dengan namanya.

Seketika semua santri di kelas Shifir tertawa, bahkan ada yang sampai memegang perutnya sangking tak tahan menahan tawanya. Kasihan ustadz itu, katanya santri tak akan berani kurang ajar pada gurunya, ternyata dia sama sekali tak pandai mendidik anak. Yah, pantas saja kejadian seperti itu terjadi. Pesantren katanya agamis, tapi..  aku melirik ustadz, lho? Kok dia ikut tersenyum lebar? Apakah dia senang ditertawakan muridnya sendiri? Benar-benar orang aneh.

"Maaf Ustadz lupa, kamu sama sekali belum pernah mendengar istilah Arab ya Arfi.. Maaf." Sepertinya ustadz menahan tawa sebab dia berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan. "Baik, sepenuhnya ini salah Ustadz ya. Silahkan Arfi duduk di meja belakang. Ustadz lain kali akan lebih berhati-hati lagi. Banin, berhenti tertawa. Mari kita mulai belajar."  Seketika tawa itu terhenti, walaupun masih ada yang terkekeh kecil.

Aku duduk di meja yang kosong. Rasa bersalahku membawaku kesini, tempat mengerikan berkedok agama. Dari dulu aku tahu, tempat seperti ini hanya menghasilkan manusia-manusia sok pintar yang menjual agama. Jangan salah paham, aku dari lahir beragama Islam. Tapi ya itu sekedar Islam turunan yang aku tak pernah mau bersentuhan dengannya. Aku tak pernah shalat, puasa, atau lainnya. Apalagi lingkungan rumah dan sekolahku juga sama sekali tak ada aroma agamis sama sekali. Satu-satunya alasan aku kesini bukan untuk mempelajari Islam, tapi karena balas dendam. Ya, aku akan balaskan dendam kawanku, Kamal..

"Fahimtum?" Ustadz bertanya. 

Seketika semua santri menjawab, "Fahimna."

Ah, istilah apalagi sih! Kita kan di Indonesia kenapa harus pakai istilah aneh-aneh. 

"Baiklah kalau begitu hafalkan yang tadi dipelajari. Besok akan ada setoran. Jangan sampai lupa. Ohya, dan kamu, Arfi nanti ke ruang guru ya."

Ternyata sudah selesai saja pelajaran aneh ini. Aku terlalu banyak melamun sampai tidak tahu apa yang dibicarakan ustadz saat pelajaran. Ah, biarlah aku tak peduli. Tujuanku memang bukan belajar. Lebih baik kusiapkan rencana itu..

"Arfi? Apa kau dengar? Jangan lupa nanti ustadz tunggu di ruang guru ya." Ustadz mengulang lagi perintahnya.

"Ah?" Aku baru tersadar sedang diajak bicara oleh ustadz. "Ya, baik ustadz." Jawabku. Ustadz itu keluar dari kelas sambil tersenyum. Mungkin baginya itu senyum yang manis, tapi bagiku itu senyum kemunafikan! Lihat saja, kau pasti akan menyesal telah membuat temanku menderita!

"Setelah ini pelajaran apa, Akhi?" Tanya seseorang saat aku sibuk menulis rencana balas dendamku. Segera kututup bukuku. Hmm, apakah tadi belum cukup jelas? Aku menjawab sambil menoleh ke arah suara di depanku, "Sudah kukatakan, namaku.." Aku menghentikan jawabanku saat kulihat ternyata ia sedang berbicara dengan teman di sampingku. Seketika percakapan mereka terhenti. Aku merasa aneh, mereka menatapku sambil menahan tawa. Eh, tunggu.. jangan-jangan...

"Ahya, Arfi.. kita belum perkenalan. Namaku Salman. Dan ini Rasyid." Rasyid mengangguk tanda kenal. "Dan maaf tadi tidak sempat menjelaskan. Akhi itu artinya saudaraku, itu bahasa Arab. Kami sudah terbiasa memanggil teman dengan awalan akhi, tanda keakraban. Jadi itu bukan memanggil namamu.."

Penjelasan Salman seketika membuat wajahku merah padam sebab malu. Jadi yang mereka tertawakan tadi adalah.... Aku! Duh!

"Tenang saja Arfi, kami juga awalnya tidak biasa. Lama kelamaan kita juga akan paham." Rasyid menambahkan.

Lama? Aku hanya ingin disini sebulan. Ya satu bulan cukup bagiku untuk menghancurkan hidup ustadz palsu itu. 

"Terima kasih." Aku tersenyum kecil untuk menanggapi hiburan dari mereka.

"Matematika! Setelah ini pelajaran Matematika, Rasyid! Ayo kita belajar kalau tak ingin dihukum lagi!" Salman langsung membuka buku matematika sambil komat-kamit. 

Rasyid wajahnya pucat, dan segera kembali ke tempatnya sambil terus berdoa. "Semoga aku tidak ditunjuk..." Itu yang kudengar berulang-ulang saat dia menuju tempatnya.

Setelah ku perhatikan sekeliling, ternyata suasana kelas sungguh mencekam. Semua sibuk menghafal pelajaran sambil keringat dingin membanjiri wajah mereka. Bahkan kulihat ada yang di pojokan kelas, menangis! Ya,dia belajar sambil menangis! Mereka betul-betul serius, seolah ini pelajaran tersulit di dunia. Aku jadi penasaran, matematika di pesantren seperti apa ya?


Senin, 18 Maret 2024

Pesantren (bagian 1)

Seandainya saat itu aku tak terlalu egois. Andai saat itu kau jelaskan semuanya padaku. Andai saat itu mulutku yang berteriak. Andai saat itu kita kembali menjalani hidup seperti biasanya. Andai kau tidak bertemu lelaki sok suci itu. Tentu semua ini tak akan terjadi, teman...

Mataku tak kuasa menahan tangis. Air mataku jatuh ke layar telepon genggam yang tengah menampilkan berita pagi ini:

Seorang Santri Tewas Dirundung Kakak Kelasnya

 Seorang santri di sebuah pondok pesantren berinisial KML ditemukan tewas di kamarnya dalam keadaan babak belur. Belum diketahui penyebab pasti kematian santri tersebut, namun disinyalir hal itu disebabkan oleh pukulan dengan benda berat yang dilakukan kakak kelasnya. 

Kepolisian resort wilayah Kota Malang masih menyelidiki.....

Ah, Kamal!!!

"Kamal!!!" Kuteriakkan namamu, berharap masa dapat kembali pada saat itu, delapan tahun yang lalu...

---

 "Apa kau masih temanku?" Pemuda itu menunduk dalam, tak berani menatapku. 

"...." Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Teman?  Apakah teman adalah tempat mengeluh saja? Kemana dia saat aku terpuruk? Siapa yang dia hampiri saat ia mendapatkan kebahagiaan? Apakah baginya teman adalah seseorang yang bermanfaat untuknya saja?

"Kau.. marah?" Masih suara dari pemuda berkaos hitam. Dia menarik napas dalam-dalam. Ia beranikan diri untuk menatapku. "Aku mengerti perasaanmu. Baiklah anggap aku tak pernah mengatakannya padamu. Kalau begitu, selamat tinggal, temanku.." 

Kamal!!!!!! Kamal!!!!

Aku berteriak. Tapi pemuda berkaos hitam itu tetap berjalan tanpa peduli teriakanku. Ah, tentu saja ia tak bisa mendengarnya, bukan mulutku yang berteriak, tapi hatiku. 

Bayangannya kian lama kian mengecil, lalu menghilang. Senja di kursi taman kota menjadi saksi percakapanku dengan Kamal. Percakapan yang ternyata tak pernah bisa dilanjutkan lagi selamanya. 



Senin, 04 Maret 2024

Syed Muhammad, bintang ke enamku

Tanggal enam belas

Di bulan pertama dari yang dua belas

Wajah mungilmu mengawali hari 

Saat semua terlelap dalam mimpi

Kala gemintang menampakkan diri


Kurasakan perihnya pengorbanan ibu sejati

Ketika kau tak sabar dan menendang tiada henti

Dengan tubuh kecilmu yang keluar bersama tangismu diiringi


Muhammad,

Namamu telah ditetapkan sejak dalam kandungan

Sebab dalam mimpi kau temui aku sebagai harapan

Kau muncul dengan jelas bersama nama persis Sang Nabi impian


Nak, namamu penuh kebanggaan

Sebab itulah nama orang yang paling kucinta tersimpan

Orang mulia sebagai utusan

Yang dengannya seluruh umat manusia terselamatkan

Kau wajib bangga dan senang, Nak..

Namamu sama seperti kekasih Tuhan 


Namamu pula seperti nama orang yang kini dalam hatiku bersemayam

Orang yang kucinta dalam ikatan suci tanpa noda yang terekam

Itulah nama ayahmu, Nak


Bintangku yang ke enam,

Terimakasih telah hadir dan menambahkan sinar di rumahku..


Rabu, 13 Desember 2023

Wajah yang Selalu Tersenyum

Hubabah Nur binti Alwiy

Itu namanya yang baru ku ketahui

Bibi habib Abdullah bin Muhammad bin Shihab, ulama masa kini

Yang merupakan guru habib Umar bin Hafidh yang sudah tak asing lagi

Apa yang ingin kubagi ini,

Kuharap jadi refleksi diri

Sebelum menjadi pengingat untuk pembaca yang baik hati...


Keistimewaan sang hubabah

Mukanya selalu tersenyum merekah

Kapanpun orang memandang padanya dari segala arah

Tak pernah terlihat sedih atau gundah

Apalagi marah


Karena dia banyak harta katamu?

Dia bahkan hanya memiliki satu bagian rumah

Hidupnya sederhana tak ada kata mewah,

Seolah ia dan dunia sudah terputus tanpa rujuk atau Iddah


Karena banyak orang bersamanya?

Justru ia tinggal seorang diri,

Tak ada satupun menemani,

Tidak pula suami..


Karena ia sehat selalu ujarmu?

Rumahnya di lantai dua,

Sebab ia sudah semakin tua,

Badannya bungkuk tak terasa,

Jalan pun sudah tak bisa,

Ia merangkak untuk sekedar istirahat di tempatnya 


Lalu sebab apa?

Segala keterbatasan ia miliki,

Namun balasan untuk semua itu senyum tanpa henti

Bukan senyum basa-basi

Ianya berasal dari hati

Hingga yang melihatnya terhibur dan merasa tak memiliki beban lagi


Senyum darimana itu?

Ialah senyum atas ketentuan Ilahi

Ia Ridha dengan segala ketetapan yang telah dibagi

Ia tahu yang membagi adalah Sang Maha Pemberi

Tak ada yang patut disesali

Justru segalanya harus disyukuri

..



Duhai Hubabah,

Ajarkan diri yang penuh alpa ini

Untuk dapat sedikit saja seperti bibirmu yang penuh cahaya Qurani

Tak pernah mengeluh atau berkesal diri

Justru semua terlihat indah tak terperi

Hingga yang terpatri

Hanyalah senyum syukur tanpa henti...

Jumat, 08 Desember 2023

LIMA SEBENTAR LAGI ENAM

 Aku bagaikan hantu

Yang datang tanpa kabar dahulu

Memberi kejutan ketika mereka tahu

Hanya saja aku disambut haru

Bukan diusir setelah dicaci dahulu


Kawan, kini aku ingin membuatmu kembali geleng-geleng kepala

Sambil berdecak antara kagum dan tak percaya

Kemarin malam kau bertanya,

Bagaimana kabarku di fananya dunia


Kawan, aku baik-baik saja

Meski rinduku padamu hanyalah lewat kata

Sebab untuk bersua dan bercanda,

Waktu tak memberiku jeda,

Bahkan untuk sekedar menikmati pagi sambil menatap angkasa


Kawan, aku benar baik saja

Bersama orang-orang yang kucinta

Tetap di kota yang bukanlah didamba

Namun, semua indah bersama mereka


Siapa mereka katamu?

Tentu saja pendamping hidup yang selalu bersama,

Anak sulung yang tak pernah kehilangan kata,

Si kedua yang selalu punya waktu untuk membaca

Si ketiga yang selalu membuat hati menjadi berbunga

Si keempat yang kini mulai mencari perhatianku sepanjang masa

Si kelima yang memiliki empat guru berbeda

Dan setelah lima...

Si keenam yang tengah menunggu hingga waktunya tiba

Untuk melihat dunia bersama seluruh cerita...


Aku menunggumu, kawan..

Tetaplah setia bersamaku..

Meski hanya satu dua kali ku berbagi waktu denganmu..


Maklumi aku, kawan

Tak dapat ku pungkiri aku merindumu

Menata kata hingga lupa waktu

Menyusun cerita hingga menjadi layak ditulis dalam buku

Aku sungguh rindu..


Ahh, maaf kawan ku tinggal dahulu

Mereka sudah memanggilku..

Kini aku tidak dipanggil dengan namaku

Umma... Itu suara mereka syahdu..


Sampai jumpa lagi, kawan!

Sabtu, 11 Maret 2023

New home: CIREBON

 Lama sudah tak ku berikan kabar 

Tentang hidupku dan keluarga besar 

Sebab segalanya penuh drama

Rasanya sulit bercerita 


Aku hanya ingin kau tahu,

Kini ada satu kota baru 

Yang kutempati bersama lima anakku

Tempat kenangan orang tuaku dulu 

Bahkan sebelum ada aku 


Kota yang dikenal sebagai kota udang 

Bukan kota utama para turis datang 

Bukan pula kota yang asri ataupun rindang 

Kota yang aku sendiri belum mengenalnya dengan jelas 

Kota yang tak pernah aku masukkan daftar kota impian 

Kota yang Allah kirim aku kesini 

Entah dengan tujuan apa 


Kota Cirebon namanya..


Betah?

Jangan tanya sekarang,

Mungkin satu tahun lagi baru aku berani berkata 


Untuk kali ini..

Aku hanya mengikuti alur Ilahi 

.